Ini ada bahan renungan bagus, bagaimana kita secara tidak sadar memperlakukan Ibu kita.
Saat kau berumur 1 tahun, dia menyuapi dan memandikanmu. Sebagai
balasannya, kau menangis sepanjang malam.
Saat kau berumur 2 tahun, dia mengajarimu bagaimana cara berjalan.
Sebagai balasannya, kau kabur saat dia memanggilmu.
Saat kau berumur 3 tahun, dia memasakkan semua makananmu dengan
kasih sayang. Sebagai balasannya, kamu tak mau memakan apa pun yang
sudah disiapkannya bagimu.
Saat kau berumur 4 tahun, dia memberimu pensil berwarna. Sebagai
balasannya, kau coret-coret dinding rumah dan meja makan
Saat kau berumur 5 tahun, dia membelikanmu pakaian-pakaian yang
mahal dan indah. Sebagai balasannya, kau memakainya untuk bermain di
kubangan lumpur dekat rumah.
Saat kau berumur 6 tahun, dia mengantarmu pergi ke sekolah. Sebagai
balasannya, kau berteriak "NGGAK MAU!!"
Saat kau berumur 7 tahun, dia membelikanmu bola. Sebagai balasannya,
kau lemparkan bola ke jendela tetangga.
Saat kau berumur 8 tahun, dia memberimu es krim. Sebagai balasannya,
kau tumpahkan hingga mengotori seluruh bajumu.
Saat kau berumur 9 tahun, dia membayar mahal untuk kursus pianomu.
Sebagai balasannya, kau sering bolos dan sama sekali tidak pernah
berlatih.
Saat kau berumur 10 tahun, dia mengantarmu ke mana saja, dari kolam
renang hingga pesta ulang tahun. Sebagai balasannya, kau melompat
keluar mobil tanpa memberi salam.
Saat kau berumur 11 tahun, dia mengantar kamu dan teman-temanmu ke
bioskop. Sebagai balasannya, kau minta dia duduk di baris lain.
Saat kau berumur 12 tahun, dia melarangmu untuk melihat acara TV
khusus orang dewasa. Sebagai balasannya, kau tunggu dia sampai dia
keluar dari rumah.
Saat kau berumur 13 tahun, dia menyarankanmu untuk memotong rambut,
karena sudah waktunya. Sebagai balasannya, kau katakan dia tidak
tahu mode.
Saat kau berumur 14 tahun, dia membayar biaya untuk kempingmu selama
sebulan liburan. Sebagai balasannya, kau tak pernah meneleponnya.
Saat kau berumur 15 tahun, dia pulang kerja ingin memelukmu. Sebagai
balasannya, kau kunci pintu kamarmu.
Saat kau berumur 16 tahun, dia ajari kau mengemudi mobilnya. Sebagai
balasannya, kau pakai mobilnya setiap ada kesempatan tanpa peduli
kepentingannya.
Saat kau berumur 17 tahun, dia sedang menunggu telepon yang penting.
Sebagai balasannya, kau pakai telepon nonstop semalaman.
Saat kau berumur 18 tahun, dia menangis terharu ketika kau lulus SMA.
Sebagai balasannya, kau berpesta dengan temanmu hingga pagi.
Saat kau berumur 19 tahun, dia membayar biaya kuliahmu dan
mengantarmu ke kampus pada hari pertama. Sebagai balasannya, kau
minta diturunkan jauh dari pintu gerbang agar kau tidak malu di
depan teman-temanmu.
Saat kau berumur 20 tahun, dia bertanya, "Dari mana saja seharian
ini?" Sebagai balasannya, kau jawab, "Ah Ibu cerewet amat sih, ingin
tahu urusan orang!"
Saat kau berumur 21 tahun, dia menyarankan satu pekerjaan yang bagus
untuk kariermu di masa depan. Sebagai balasannya, kau katakan, "Aku
tidak ingin seperti Ibu."
Saat kau berumur 22 tahun, dia memelukmu dengan haru saat kau lulus
perguruan tinggi. Sebagai balasannya, kau tanya dia kapan kau bisa
ke Bali.
Saat kau berumur 23 tahun, dia membelikanmu 1 set furnitur untuk
rumah barumu. Sebagai balasannya, kau ceritakan pada temanmu betapa
jeleknya furnitur itu.
Saat kau berumur 24 tahun, dia bertemu dengan tunanganmu dan
bertanya tentang rencananya di masa depan. Sebagai balasannya, kau
mengeluh, "Aduuh, bagaimana Ibu ini, kok bertanya seperti itu?"
Saat kau berumur 25 tahun, dia membantumu membiayai penikahanmu.
Sebagai balasannya, kau pindah ke kota lain yang jaraknya lebih dari
500 km.
Saat kau berumur 30 tahun, dia memberikan beberapa nasihat bagaimana
merawat bayimu. Sebagai balasannya, kau katakan padanya, "Bu,
sekarang jamannya sudah berbeda!"
Saat kau berumur 40 tahun, dia menelepon untuk memberitahukan pesta
ulang tahun salah seorang kerabat. Sebagai balasannya, kau
jawab, "Bu, saya sibuk sekali, nggak ada waktu."
Saat kau berumur 50 tahun, dia sakit-sakitan sehingga memerlukan
perawatanmu. Sebagai balasannya, kau baca tentang pengaruh negatif
orang tua yang menumpang tinggal di rumah anak-anaknya.
Dan hingga suatu hari, dia meninggal dengan tenang. Dan tiba-tiba
kauteringat semua yang belum pernah kau lakukan, karena mereka
datang menghantam HATI mu bagaikan palu godam.
JIKA SAAT INI BELIAU MASIH ADA, JANGAN LUPA MEMBERIKAN KASIH
SAYANGMU LEBIH DARI YANG PERNAH KAU BERIKAN PADANYA SELAMA INI.
Showing posts with label inspirasi. Show all posts
Showing posts with label inspirasi. Show all posts
Wednesday, July 29, 2009
When You Divorce Me, Carry Me Out in Your Arms
Pada hari pernikahanku,aku membopong istriku. Mobil pengantin berhenti didepan flat kami yg cuma berkamar satu. Sahabat2ku menyuruhku untuk membopongnya begitu keluar dari mobil, jadi kubopong ia memasuki rumah kami. Ia kelihatan malu2. Aku adalah seorang pengantin pria yg sangat bahagia. Ini adalah kejadian 10 tahun yg lalu.
Hari2 selanjutnya berlalu demikian simpel seperti secangkir air bening : kami mempunyai seorang anak, saya terjun ke dunia usaha dan berusaha
untuk menghasilkan banyak uang. Begitu kemakmuran meningkat, jalinan kasih diantara kami pun semakin surut. Ia adalah pegawai sipil. setiap pagi kami berangkat kerja bersama2 dan sampai dirumah juga pada waktu yg bersamaan. Anak kami sedang belajar di luar negeri. Perkawinan kami kelihatan bahagia.
Tapi ketenangan hidup berubah dipengaruhi oleh perubahan yg tidak kusangka2.
Dew hadir dalam kehidupanku. Waktu itu adalah hari yg cerah. Aku berdiri di balkon dengan Dew yg sedang merangkulku. Hatiku sekali lagi terbenam dalam aliran cintanya. Ini adalah apartment yg kubelikan untuknya. Dew berkata , "kamu adalah jenis pria terbaik yg menarik para gadis." Kata2nya tiba-tiba mengingatkanku pada istriku. Ketika kami baru menikah, istriku pernah berkata, "Pria sepertimu, begitu sukses, akan menjadi sangat menarik bagi par gadis. "
Berpikir tentang ini, aku menjadi ragu2. Aku tahu kalau aku telah menghianati istriku tapi, aku tidak sanggup menghentikannya.
Aku melepaskan tangan Dew dan berkata, "kamu harus pergi membeli beberapa perabot, O.K.?. Aku ada sedikit urusan dikantor ." Kelihatan ia jadi tidak senang karena aku telah berjanji menemaninya. Pada saat itu, ide perceraian menjadi semakin jelas dipikiranku walaupun kelihatan tidak mungkin. Bagaimanapun,aku merasa sangat sulit untuk membicarakan hal ini pada istriku. Walau bagaimanapun ku jelaskan, ia pasti akan sangat terluka.
Sejujurnya, ia adalah seorang istri yg baik. Setiap malam ia sibuk menyiapkan makan malam. Aku duduk santai didepan TV. Makan malam segera tersedia. Lalu kami akan menonton TV sama2. Atau, aku akan menghidupkan komputer, membayangkan tubuh Dew. Ini adalah hiburan bagiku.
Suatu hari aku berbicara dalam guyon, "seandainya kita bercerai, apa yg akan kau lakukan?." Ia menatap padaku selama beberapa detik tanpa bersuara. Kenyataannya ia percaya bahwa perceraian adalah sesuatu yg sangat jauh darinya. Aku tidak bisa membayangkan bagaimana ia akan menghadapi kenyataan jika dia tahu bahwa aku serius.
Ketika istriku mengunjungi kantorku, Dew baru saja keluar dari ruanganku. Hampir seluruh staff menatap istriku dengan mata penuh simpati dan
berusaha untuk menyembunyikan segala sesuatu selama berbicara dengannya .. Ia kelihatan sedikit curiga tetapi berusaha tersenyum pada bawahan2ku.
Tapi aku membaca ada kelukaan di matanya. Sekali lagi, Dew berkata padaku," He Ning, ceraikan ia, O.K.? Lalu kita akan hidup bersama."
Aku mengangguk. Aku tahu aku tidak boleh ragu2 lagi.
Ketika malam itu istriku menyiapkan makan malam, ku pegang tangannya, "Ada sesuatu yg harus kukatakan" Ia duduk diam dan makan tanpa bersuara. Sekali lagi aku melihat ada luka dimatanya. Tiba2 aku tidak tahu harus berkata apa. Tapi ia tahu kalo aku terus berpikir. " Aku ingin bercerai", ku ungkapkan topik ini dengan serius tapi tenang. Ia seperti tidak terpengaruh oleh kata2ku, tapi ia bertanya secara lembut, " Kenapa?." "Aku serius," kataku lagi. Aku menghindari pertanyaannya. Jawaban ini membuat ia sangat marah. Ia melemparkan sumpit dan berteriak kepadaku,"Kamu bukan laki2!" .
Pada malam itu, kami sekali saling membisu. Ia sedang menangis.. Aku tahu kalau ia ingin tahu apa yg telah terjadi dengan perkawinan kami. Tapi aku tidak bisa memberikan jawaban yg memuaskan sebab hatiku telah dibawa pergi oleh Dew. Dengan perasaan yg amat bersalah, Aku menuliskan surai perceraian
dimana istriku memperoleh rumah, mobil dan 30% saham dari perusahaanku. Ia memandangnya sekilas dan mengoyaknya jadi beberapa bagian..
Aku merasakan sakit dalam hati. Wanita yg telah 10tahun hidup bersamaku sekarang menjadi seorang yg asing dalam hidupku. Tapi aku tidak bisa mengembalikan apa yg telah kuucapkan. Akhirnya ia menangis dengan keras didepanku,dimana hal tersebut tidakpernah kulihat sebelumnya. Bagiku, tangisannya merupakan suatu pembebasan untukku.
Ide perceraian telah menghantuiku dalam beberapa minggu ini dan sekarang sungguh2 telah terjadi .. Pada larut malam, aku kembali ke rumah setelah menemui klienku. Aku melihat ia sedang menulis sesuatu. Karena capek aku segera ketiduran. Ketika aku terbangun tengah malam, aku melihat ia masih menulis. Aku tertidur kembali. Ia menuliskan syarat2 dari perceraiannya: ia tidak menginginkan apapun dariku, tapi aku harus memberikan waktu sebulan sebelum menceraikannya dan dalam waktu sebulan itu kami harus hidup bersama seperti biasanya. Alasannya sangat sederhana : Anak kami akan segera menyelesaikkan pendidikannya dan liburannya adalah sebulan lagi dan ia tidak ingin anak kami melihat kehancuran rumah tangga kami. Ia menyerahkan persyaratan tersebut dan bertanya," He Ning, apakah kamu masih ingat bagaimana aku memasuki rumah kita ketika pada hari pernikahan kita? ". Pertanyaan ini tiba2 mengembalikan beberapa kenangan indah kepadaku. Aku mengangguk dan mengiyakan. "Kamu membopongku dilenganmu", katanya, "jadi aku punya sebuah permintaan, yaitu kamu akan tetap membopongku pada waktu perceraian kita. Dari sekarang sampai akhir bulan ini, setiap pagi kamu harus membopongku keluar dari kamar tidur ke pintu." Aku menerima dengan senyum. Aku tahu ia merindukan beberapa kenangan indah yg telah berlalu dan berharap perkawinannya diakhiri dengan suasana romantis.
Aku memberitahukan Dew soal syarat2 perceraian dari istriku. Ia tertawa keras dan berpikir itu tidak ada gunanya.
"Bagaimanapun trik yg ia lakukan, ia harus menghadapi hasil dari perceraian ini," ia mencemooh. Kata2nya membuatku merasa tidak enak.
Istriku dan aku tidak mengadakan kontak badan lagi sejak kukatakan perceraian itu. Kami saling menganggap orang asing.
Jadi ketika aku membopongnya dihari pertama, kami kelihatan salah tingkah.
Anak kami menepuk punggung kami," Wah, Papa membopong mama, mesra sekali" Kata2nya membuatku merasa sakit..
Dari kamar tidur ke ruang duduk, lalu ke pintu, aku berjalan 10 meter dengan ia dalam lenganku. Ia memejamkan mata dan berkata dengan lembut," Mari kita mulai hari ini, jangan memberitahukan pada anak kita." Aku mengangguk, merasa sedikit bimbang. Aku melepaskan ia di pintu. Ia pergi menunggu bus dan aku pergi ke kantor.
Pada hari kedua, bagi kami terasa lebih mudah. Ia merebah di dadaku. Kami begitu dekat sampai2 aku bisa mencium wangi di bajunya.
Aku menyadari bahwa aku telah sangat lama tidak melihat dengan mesra wanita ini. Aku melihat bahwa ia tidak muda lagi, beberapa kerut tampak di wajahnya. Pada hari ketiga, ia berbisik padaku, "Kebun diluar sedang dibongkar, hati2 kalau kamu lewat sana." Hari keempat, ketika aku m embangunkannya, aku merasa kalau kami masih mesra seperti sepasang suami istri dan aku masih membopong kekasihku dilenganku. Bayangan Dew menjadi samar.
Pada hari kelima dan enam, ia masih mengingatkan aku beberapa hal seperti, dimana ia telah menyimpan baju2ku yg telah ia setrika, aku harus
hati2 saat memasak, dll. Aku mengangguk.
Perasaan kedekatan terasa semakin erat. Aku tidak memberitahu Dew tentang ini. Aku merasa begitu ringan membopongnya. Berharap setiap hari pergi ke kantor bisa membuatku semakin kuat. Aku berkata padanya,"Kelihatannya tidaklah sulit membopongmu sekarang."
Ia sedang mencoba pakaiannya, aku sedang menunggu untuk membopongnya keluar. Ia berusaha mencoba beberapa tapi tidak bisa menemukan yg cocok.
Lalu ia melihat,"semua pakaianku kebesaran". Aku tersenyum.Tapi tiba2 aku menyadarinya sebab ia semakin kurus itu sebabnya aku bisa membopongnya dengan ringan bukan disebabkan aku semakin kuat.
Aku tahu ia mengubur semua kesedihannya dalam hati. Sekali lagi, aku merasakan perasaan sakit hatinya. Tanpa sadar ku sentuh kepalanya.
Anak kami masuk pada saat tersebut,"Pa, sudah waktunya membopong Mama keluar." Baginya, melihat Papanya sedang membopong mamanya keluar menjadi bagian yg penting. Ia memberikan isyarat agar anak kami mendekatinya dan merangkulnya dengan erat. Aku membalikkan wajah sebab aku takut aku akan berubah pikiran pada detik terakhir. Aku menyanggah ia dilenganku, berjalan dari kamar tidur, melewati ruang duduk ke teras. Tangannya memegangku secara lembut dan alami. Aku menyanggah badannya dengan kuat seperti kami kembali ke hari pernikahan kami. Tapi ia kelihatan agak pucat dan kurus, membuatku sedih. Pada hari terakhir,ketika aku membopongnya dilenganku, aku melangkah dengan berat. Anak kami telah kembali ke sekolah.
Ia berkata,"sesungguhnya aku berharap kamu akan membopongku sampai kita tua." Aku memeluknya dengan kuat dan berkata "antara kita saling tidak menyadari bahwa kehidupan kita begitu mesra".
Aku melompat turun dari mobil tanpa sempat menguncinya. Aku takut keterlambatan akan membuat pikiranku berubah. Aku menaiki tangga.
Dew membuka pintu. Aku berkata padanya," Maaf Dew, Aku tidak ingin bercerai. Aku serius." Ia melihat kepadaku, kaget. Ia menyentuh dahiku."Kamu tidak demam". Kutepiskan tanganya dari dahiku"maaf, Dew,Aku cuma bisa bilang maaf padamu,Aku tidak ingin bercerai. Kehidupan rumah tanggaku membosankan disebabkan ia dan aku tidak bisa merasakan nilai2 dari kehidupan,bukan disebabkan kami tidak saling mencintai lagi.Sekarang aku mengerti sejak aku membopongnya masuk ke rumahku, ia telah melahirkan anakku. Aku akan menjaganya sampai tua. Jadi aku minta maaf padamu" Dew tiba2 seperti tersadar. Ia memberikan tamparan keras kepadaku dan menutup pintu dgn kencang dan tangisannya meledak.
Aku menuruni tangga dan pergi ke kantor. Dalam perjalanan aku melewati sebuah toko bunga, ku pesan sebuah buket bunga kesayangan istriku.
Penjual bertanya apa yg mesti ia tulis dalam kartu ucapan?. Aku tersenyum, dan menulis "Aku akan membopongmu setiap pagi sampai kita tua.."
Hari2 selanjutnya berlalu demikian simpel seperti secangkir air bening : kami mempunyai seorang anak, saya terjun ke dunia usaha dan berusaha
untuk menghasilkan banyak uang. Begitu kemakmuran meningkat, jalinan kasih diantara kami pun semakin surut. Ia adalah pegawai sipil. setiap pagi kami berangkat kerja bersama2 dan sampai dirumah juga pada waktu yg bersamaan. Anak kami sedang belajar di luar negeri. Perkawinan kami kelihatan bahagia.
Tapi ketenangan hidup berubah dipengaruhi oleh perubahan yg tidak kusangka2.
Dew hadir dalam kehidupanku. Waktu itu adalah hari yg cerah. Aku berdiri di balkon dengan Dew yg sedang merangkulku. Hatiku sekali lagi terbenam dalam aliran cintanya. Ini adalah apartment yg kubelikan untuknya. Dew berkata , "kamu adalah jenis pria terbaik yg menarik para gadis." Kata2nya tiba-tiba mengingatkanku pada istriku. Ketika kami baru menikah, istriku pernah berkata, "Pria sepertimu, begitu sukses, akan menjadi sangat menarik bagi par gadis. "
Berpikir tentang ini, aku menjadi ragu2. Aku tahu kalau aku telah menghianati istriku tapi, aku tidak sanggup menghentikannya.
Aku melepaskan tangan Dew dan berkata, "kamu harus pergi membeli beberapa perabot, O.K.?. Aku ada sedikit urusan dikantor ." Kelihatan ia jadi tidak senang karena aku telah berjanji menemaninya. Pada saat itu, ide perceraian menjadi semakin jelas dipikiranku walaupun kelihatan tidak mungkin. Bagaimanapun,aku merasa sangat sulit untuk membicarakan hal ini pada istriku. Walau bagaimanapun ku jelaskan, ia pasti akan sangat terluka.
Sejujurnya, ia adalah seorang istri yg baik. Setiap malam ia sibuk menyiapkan makan malam. Aku duduk santai didepan TV. Makan malam segera tersedia. Lalu kami akan menonton TV sama2. Atau, aku akan menghidupkan komputer, membayangkan tubuh Dew. Ini adalah hiburan bagiku.
Suatu hari aku berbicara dalam guyon, "seandainya kita bercerai, apa yg akan kau lakukan?." Ia menatap padaku selama beberapa detik tanpa bersuara. Kenyataannya ia percaya bahwa perceraian adalah sesuatu yg sangat jauh darinya. Aku tidak bisa membayangkan bagaimana ia akan menghadapi kenyataan jika dia tahu bahwa aku serius.
Ketika istriku mengunjungi kantorku, Dew baru saja keluar dari ruanganku. Hampir seluruh staff menatap istriku dengan mata penuh simpati dan
berusaha untuk menyembunyikan segala sesuatu selama berbicara dengannya .. Ia kelihatan sedikit curiga tetapi berusaha tersenyum pada bawahan2ku.
Tapi aku membaca ada kelukaan di matanya. Sekali lagi, Dew berkata padaku," He Ning, ceraikan ia, O.K.? Lalu kita akan hidup bersama."
Aku mengangguk. Aku tahu aku tidak boleh ragu2 lagi.
Ketika malam itu istriku menyiapkan makan malam, ku pegang tangannya, "Ada sesuatu yg harus kukatakan" Ia duduk diam dan makan tanpa bersuara. Sekali lagi aku melihat ada luka dimatanya. Tiba2 aku tidak tahu harus berkata apa. Tapi ia tahu kalo aku terus berpikir. " Aku ingin bercerai", ku ungkapkan topik ini dengan serius tapi tenang. Ia seperti tidak terpengaruh oleh kata2ku, tapi ia bertanya secara lembut, " Kenapa?." "Aku serius," kataku lagi. Aku menghindari pertanyaannya. Jawaban ini membuat ia sangat marah. Ia melemparkan sumpit dan berteriak kepadaku,"Kamu bukan laki2!" .
Pada malam itu, kami sekali saling membisu. Ia sedang menangis.. Aku tahu kalau ia ingin tahu apa yg telah terjadi dengan perkawinan kami. Tapi aku tidak bisa memberikan jawaban yg memuaskan sebab hatiku telah dibawa pergi oleh Dew. Dengan perasaan yg amat bersalah, Aku menuliskan surai perceraian
dimana istriku memperoleh rumah, mobil dan 30% saham dari perusahaanku. Ia memandangnya sekilas dan mengoyaknya jadi beberapa bagian..
Aku merasakan sakit dalam hati. Wanita yg telah 10tahun hidup bersamaku sekarang menjadi seorang yg asing dalam hidupku. Tapi aku tidak bisa mengembalikan apa yg telah kuucapkan. Akhirnya ia menangis dengan keras didepanku,dimana hal tersebut tidakpernah kulihat sebelumnya. Bagiku, tangisannya merupakan suatu pembebasan untukku.
Ide perceraian telah menghantuiku dalam beberapa minggu ini dan sekarang sungguh2 telah terjadi .. Pada larut malam, aku kembali ke rumah setelah menemui klienku. Aku melihat ia sedang menulis sesuatu. Karena capek aku segera ketiduran. Ketika aku terbangun tengah malam, aku melihat ia masih menulis. Aku tertidur kembali. Ia menuliskan syarat2 dari perceraiannya: ia tidak menginginkan apapun dariku, tapi aku harus memberikan waktu sebulan sebelum menceraikannya dan dalam waktu sebulan itu kami harus hidup bersama seperti biasanya. Alasannya sangat sederhana : Anak kami akan segera menyelesaikkan pendidikannya dan liburannya adalah sebulan lagi dan ia tidak ingin anak kami melihat kehancuran rumah tangga kami. Ia menyerahkan persyaratan tersebut dan bertanya," He Ning, apakah kamu masih ingat bagaimana aku memasuki rumah kita ketika pada hari pernikahan kita? ". Pertanyaan ini tiba2 mengembalikan beberapa kenangan indah kepadaku. Aku mengangguk dan mengiyakan. "Kamu membopongku dilenganmu", katanya, "jadi aku punya sebuah permintaan, yaitu kamu akan tetap membopongku pada waktu perceraian kita. Dari sekarang sampai akhir bulan ini, setiap pagi kamu harus membopongku keluar dari kamar tidur ke pintu." Aku menerima dengan senyum. Aku tahu ia merindukan beberapa kenangan indah yg telah berlalu dan berharap perkawinannya diakhiri dengan suasana romantis.
Aku memberitahukan Dew soal syarat2 perceraian dari istriku. Ia tertawa keras dan berpikir itu tidak ada gunanya.
"Bagaimanapun trik yg ia lakukan, ia harus menghadapi hasil dari perceraian ini," ia mencemooh. Kata2nya membuatku merasa tidak enak.
Istriku dan aku tidak mengadakan kontak badan lagi sejak kukatakan perceraian itu. Kami saling menganggap orang asing.
Jadi ketika aku membopongnya dihari pertama, kami kelihatan salah tingkah.
Anak kami menepuk punggung kami," Wah, Papa membopong mama, mesra sekali" Kata2nya membuatku merasa sakit..
Dari kamar tidur ke ruang duduk, lalu ke pintu, aku berjalan 10 meter dengan ia dalam lenganku. Ia memejamkan mata dan berkata dengan lembut," Mari kita mulai hari ini, jangan memberitahukan pada anak kita." Aku mengangguk, merasa sedikit bimbang. Aku melepaskan ia di pintu. Ia pergi menunggu bus dan aku pergi ke kantor.
Pada hari kedua, bagi kami terasa lebih mudah. Ia merebah di dadaku. Kami begitu dekat sampai2 aku bisa mencium wangi di bajunya.
Aku menyadari bahwa aku telah sangat lama tidak melihat dengan mesra wanita ini. Aku melihat bahwa ia tidak muda lagi, beberapa kerut tampak di wajahnya. Pada hari ketiga, ia berbisik padaku, "Kebun diluar sedang dibongkar, hati2 kalau kamu lewat sana." Hari keempat, ketika aku m embangunkannya, aku merasa kalau kami masih mesra seperti sepasang suami istri dan aku masih membopong kekasihku dilenganku. Bayangan Dew menjadi samar.
Pada hari kelima dan enam, ia masih mengingatkan aku beberapa hal seperti, dimana ia telah menyimpan baju2ku yg telah ia setrika, aku harus
hati2 saat memasak, dll. Aku mengangguk.
Perasaan kedekatan terasa semakin erat. Aku tidak memberitahu Dew tentang ini. Aku merasa begitu ringan membopongnya. Berharap setiap hari pergi ke kantor bisa membuatku semakin kuat. Aku berkata padanya,"Kelihatannya tidaklah sulit membopongmu sekarang."
Ia sedang mencoba pakaiannya, aku sedang menunggu untuk membopongnya keluar. Ia berusaha mencoba beberapa tapi tidak bisa menemukan yg cocok.
Lalu ia melihat,"semua pakaianku kebesaran". Aku tersenyum.Tapi tiba2 aku menyadarinya sebab ia semakin kurus itu sebabnya aku bisa membopongnya dengan ringan bukan disebabkan aku semakin kuat.
Aku tahu ia mengubur semua kesedihannya dalam hati. Sekali lagi, aku merasakan perasaan sakit hatinya. Tanpa sadar ku sentuh kepalanya.
Anak kami masuk pada saat tersebut,"Pa, sudah waktunya membopong Mama keluar." Baginya, melihat Papanya sedang membopong mamanya keluar menjadi bagian yg penting. Ia memberikan isyarat agar anak kami mendekatinya dan merangkulnya dengan erat. Aku membalikkan wajah sebab aku takut aku akan berubah pikiran pada detik terakhir. Aku menyanggah ia dilenganku, berjalan dari kamar tidur, melewati ruang duduk ke teras. Tangannya memegangku secara lembut dan alami. Aku menyanggah badannya dengan kuat seperti kami kembali ke hari pernikahan kami. Tapi ia kelihatan agak pucat dan kurus, membuatku sedih. Pada hari terakhir,ketika aku membopongnya dilenganku, aku melangkah dengan berat. Anak kami telah kembali ke sekolah.
Ia berkata,"sesungguhnya aku berharap kamu akan membopongku sampai kita tua." Aku memeluknya dengan kuat dan berkata "antara kita saling tidak menyadari bahwa kehidupan kita begitu mesra".
Aku melompat turun dari mobil tanpa sempat menguncinya. Aku takut keterlambatan akan membuat pikiranku berubah. Aku menaiki tangga.
Dew membuka pintu. Aku berkata padanya," Maaf Dew, Aku tidak ingin bercerai. Aku serius." Ia melihat kepadaku, kaget. Ia menyentuh dahiku."Kamu tidak demam". Kutepiskan tanganya dari dahiku"maaf, Dew,Aku cuma bisa bilang maaf padamu,Aku tidak ingin bercerai. Kehidupan rumah tanggaku membosankan disebabkan ia dan aku tidak bisa merasakan nilai2 dari kehidupan,bukan disebabkan kami tidak saling mencintai lagi.Sekarang aku mengerti sejak aku membopongnya masuk ke rumahku, ia telah melahirkan anakku. Aku akan menjaganya sampai tua. Jadi aku minta maaf padamu" Dew tiba2 seperti tersadar. Ia memberikan tamparan keras kepadaku dan menutup pintu dgn kencang dan tangisannya meledak.
Aku menuruni tangga dan pergi ke kantor. Dalam perjalanan aku melewati sebuah toko bunga, ku pesan sebuah buket bunga kesayangan istriku.
Penjual bertanya apa yg mesti ia tulis dalam kartu ucapan?. Aku tersenyum, dan menulis "Aku akan membopongmu setiap pagi sampai kita tua.."
Dapatkah Anda Meramal Masa Depan?
Can You Predict Your Future?
By Darmadi Darmawangsa M.Sc., C.Eng
Beberapa tahun yang lalu, saya bertemu dengan seorang pengusaha yang terbilang sukses di Surabaya.
Pada hari itu, saya diperkenalkan dengan seorang peramal terkenal yang katanya dapat meramal nasib seseorang dengan akurasi yang sangat tinggi.
Sang peramal meminta saya untuk memperlihatkan salah satu telapak tangan saya.
Setelah mengamatinya cukup lama, tiba-tiba raut muka peramal itu berubah menjadi kaget dan berkata kepada pengusaha itu, "Anak ini akan menjadi orang yang sangat berhasil ketika ia berusia 32 tahun nanti."
Pengusaha itu gembira dan menawarkan saya posisi di perusahaannya, namun saya menolak karena mempunyai tujuan yang berbeda.
Sebagai seorang yang beragama, saya sama sekali tidak mempercayai ramalan orang itu.
Namun hari itu, hati saya berdebar-debar, muka saya memerah, dan kepala saya tiba-tiba terasa lebih besar darisebelumnya.
Saya merasa sangat senang dan bangga bahwa jalan hidup saya ternyata terbuka lebar untuk meraih kesuksesan.
Saya berusia 26 tahun pada saat itu, dan saya mengatakan kepada diri saya bahwa enam tahun lagi saya akan mencapai kesuksesan.
Pada saat itu saya benar-benar percaya bahwa kesuksesan seseorang itu ditentukan dan bukanlah pilihan.
Sikap saya selama enam tahun kemudian sangatlah positif karena saya berusaha menjadikan ramalan tersebut menjadi kenyataan.
Namun sekarang saya baru menyadari, bahwa sebenarnya bukan ramalan peramal itu yang membuat saya dapat menggapai sukses melainkan belief (keyakinan) dan action (tindakan) untuk mencapainya.
Hal menarik yang perlu kita perhatikan adalah, apa yang akan terjadi jika sang peramal berkata bahwa saya akan menjadi seorang yang gagal ketika saya berusia 32 tahun? atau yang lebih buruk lagi bahwa saya akan meninggal pada saat saya berusia 28 tahun?
Saya yakin, dari informasi itu saya akan mengambil tindakan yang jauh berbeda dibanding tindakan yang telah saya ambil sampai saat ini.
Namun di sisi lain, apa yang terjadi jika ia meramal bahwa saya akan berhasil lebih cepat lagi, seumpama 28 tahun?
Akankah saya bekerja lebih keras lagi ?
Pasti.
Kesimpulannya adalah berhati-hatilah terhadap apa yang menjadi keyakinan Anda, karena apapun yang Anda yakini akan menjadi kenyataan.
Alkisah di jaman kekaisaran Cina kuno,
hiduplah seorang peramal terkenal yang mampu meramal kehidupan seseorang di masa depannya.
Peramal ini begitu hebatnya, sehingga hampir setiap ramalan yang dibuatnya menjadi kenyataan.
Suatu ketika, datanglah dua orang ibu muda secara bersamaan dan masing-masing membawa bayi mereka untuk diramalkan nasibnya di kemudian hari.
Bayi dari ibu pertama diramal akan menjadi tangan kanan Kaisar, sedangkan bayi dari ibu yang kedua diramal akan menjadi pengemis ketika dewasa nanti.
Pulanglah kedua ibu muda tersebut ke rumah masing-masing.
Ibu pertama sangat senang dan bangga karena kelak anaknya akan menjadi tangan kanan Kaisar.
Oleh karena itu, setiap kali bertemu orang lain ia menceritakan nasib anaknya kelak.
Waktu pun berlalu, dari kecil sampai dewasa ibu ini sangat memanjakan anaknya, apapun yang diinginkan anaknya selalu diberikan.
Bahkan ia tidak mau menyekolahkan anaknya, karena toh nantinya akan menjadi orang penting di kerajaan.
Namun lain halnya dengan ibu yang kedua.
Ibu ini sangat bersedih karena anaknya kelak akan menjadi pengemis.
Ia mengurung dirinya dan mendidik anaknya dengan keras dan disiplin ketat.
Ibu ini bertekad agar anaknya kelak tidak menjadi pengemis seperti kata sang peramal.
Setiap hari anaknya diberikan pelajaran yang baik dan disiplin yang tinggi.
Singkat cerita, ketika kedua anak ini tumbuh menjadi dewasa, kenyataannya menjadi terbalik.
Karena sering dimanja dan tidak pernah susah dalam hidupnya, anak yang diramal menjadi tangan kanan Kaisar akhirnya menjadi pengemis, sedangkan anak yang ditempa dengan keras oleh ibunya dan dididik dengan disiplin tinggi akhirnya menjadi tangan kanan Kaisar.
Itulah kekuatan subconscious mind (pikiran bawah
sadar) kita.
Dengan informasi yang diberikan kepadanya, maka keyakinan akan tumbuh dan melekat kuat sehingga mempengaruhi segala aktifitas hidup.
Dalam cerita di atas, kita dapat melihat bahwa kedua ibu muda tersebut menerima infomasi dari sumber yang sama, sang peramal.
Informasi-informasi tersebut kemudian masuk ke dalam pikiran sadar (conscious mind) mereka.
Selanjutnya, informasi-informasi ini bersemayam beberapa lama dan kemudian langsung diserap tanpa argumen oleh pikiran bawah sadar (subconscious mind) mereka hingga muncullah suatu keyakinan di dalam diri kedua ibu muda itu.
Apa yang membedakan keduanya sehingga hasil akhir menjadi berbalik 180 derajat?.
Jawabannya sederhana, kuncinya terletak pada bagaimana kedua ibu muda ini mengendalikan pikiran bawah sadar dan attitude mereka terhadap informasi yang diterima.
Belief, sekali lagi dengan positive belief, maka kita akan bisa melampaui batasan-batasan yang dibuat manusia.
Batasan-batasan tersebut hakikatnya adalah tembok penghalang yang besar, tinggi dan kokoh, yang menutup mata kita dari kekuatan potensi diri yang sangat hebat.
Saya yakin, 90% manusia di dunia ini belum mengeluarkan semua yang terbaik dalam diri mereka untuk mencapai batasan optimum dalam hidupnya.
Ingatlah, batasan itu hanyalah batasan yang Anda dipikiran kita.
Kesimpulannya, bukan ramalan yang menentukan apakah kita sukses atau tidak, melainkan attitude kita terhadap belief yang kita percayai.
Live your life with passion!
By Darmadi Darmawangsa M.Sc., C.Eng
Beberapa tahun yang lalu, saya bertemu dengan seorang pengusaha yang terbilang sukses di Surabaya.
Pada hari itu, saya diperkenalkan dengan seorang peramal terkenal yang katanya dapat meramal nasib seseorang dengan akurasi yang sangat tinggi.
Sang peramal meminta saya untuk memperlihatkan salah satu telapak tangan saya.
Setelah mengamatinya cukup lama, tiba-tiba raut muka peramal itu berubah menjadi kaget dan berkata kepada pengusaha itu, "Anak ini akan menjadi orang yang sangat berhasil ketika ia berusia 32 tahun nanti."
Pengusaha itu gembira dan menawarkan saya posisi di perusahaannya, namun saya menolak karena mempunyai tujuan yang berbeda.
Sebagai seorang yang beragama, saya sama sekali tidak mempercayai ramalan orang itu.
Namun hari itu, hati saya berdebar-debar, muka saya memerah, dan kepala saya tiba-tiba terasa lebih besar darisebelumnya.
Saya merasa sangat senang dan bangga bahwa jalan hidup saya ternyata terbuka lebar untuk meraih kesuksesan.
Saya berusia 26 tahun pada saat itu, dan saya mengatakan kepada diri saya bahwa enam tahun lagi saya akan mencapai kesuksesan.
Pada saat itu saya benar-benar percaya bahwa kesuksesan seseorang itu ditentukan dan bukanlah pilihan.
Sikap saya selama enam tahun kemudian sangatlah positif karena saya berusaha menjadikan ramalan tersebut menjadi kenyataan.
Namun sekarang saya baru menyadari, bahwa sebenarnya bukan ramalan peramal itu yang membuat saya dapat menggapai sukses melainkan belief (keyakinan) dan action (tindakan) untuk mencapainya.
Hal menarik yang perlu kita perhatikan adalah, apa yang akan terjadi jika sang peramal berkata bahwa saya akan menjadi seorang yang gagal ketika saya berusia 32 tahun? atau yang lebih buruk lagi bahwa saya akan meninggal pada saat saya berusia 28 tahun?
Saya yakin, dari informasi itu saya akan mengambil tindakan yang jauh berbeda dibanding tindakan yang telah saya ambil sampai saat ini.
Namun di sisi lain, apa yang terjadi jika ia meramal bahwa saya akan berhasil lebih cepat lagi, seumpama 28 tahun?
Akankah saya bekerja lebih keras lagi ?
Pasti.
Kesimpulannya adalah berhati-hatilah terhadap apa yang menjadi keyakinan Anda, karena apapun yang Anda yakini akan menjadi kenyataan.
Alkisah di jaman kekaisaran Cina kuno,
hiduplah seorang peramal terkenal yang mampu meramal kehidupan seseorang di masa depannya.
Peramal ini begitu hebatnya, sehingga hampir setiap ramalan yang dibuatnya menjadi kenyataan.
Suatu ketika, datanglah dua orang ibu muda secara bersamaan dan masing-masing membawa bayi mereka untuk diramalkan nasibnya di kemudian hari.
Bayi dari ibu pertama diramal akan menjadi tangan kanan Kaisar, sedangkan bayi dari ibu yang kedua diramal akan menjadi pengemis ketika dewasa nanti.
Pulanglah kedua ibu muda tersebut ke rumah masing-masing.
Ibu pertama sangat senang dan bangga karena kelak anaknya akan menjadi tangan kanan Kaisar.
Oleh karena itu, setiap kali bertemu orang lain ia menceritakan nasib anaknya kelak.
Waktu pun berlalu, dari kecil sampai dewasa ibu ini sangat memanjakan anaknya, apapun yang diinginkan anaknya selalu diberikan.
Bahkan ia tidak mau menyekolahkan anaknya, karena toh nantinya akan menjadi orang penting di kerajaan.
Namun lain halnya dengan ibu yang kedua.
Ibu ini sangat bersedih karena anaknya kelak akan menjadi pengemis.
Ia mengurung dirinya dan mendidik anaknya dengan keras dan disiplin ketat.
Ibu ini bertekad agar anaknya kelak tidak menjadi pengemis seperti kata sang peramal.
Setiap hari anaknya diberikan pelajaran yang baik dan disiplin yang tinggi.
Singkat cerita, ketika kedua anak ini tumbuh menjadi dewasa, kenyataannya menjadi terbalik.
Karena sering dimanja dan tidak pernah susah dalam hidupnya, anak yang diramal menjadi tangan kanan Kaisar akhirnya menjadi pengemis, sedangkan anak yang ditempa dengan keras oleh ibunya dan dididik dengan disiplin tinggi akhirnya menjadi tangan kanan Kaisar.
Itulah kekuatan subconscious mind (pikiran bawah
sadar) kita.
Dengan informasi yang diberikan kepadanya, maka keyakinan akan tumbuh dan melekat kuat sehingga mempengaruhi segala aktifitas hidup.
Dalam cerita di atas, kita dapat melihat bahwa kedua ibu muda tersebut menerima infomasi dari sumber yang sama, sang peramal.
Informasi-informasi tersebut kemudian masuk ke dalam pikiran sadar (conscious mind) mereka.
Selanjutnya, informasi-informasi ini bersemayam beberapa lama dan kemudian langsung diserap tanpa argumen oleh pikiran bawah sadar (subconscious mind) mereka hingga muncullah suatu keyakinan di dalam diri kedua ibu muda itu.
Apa yang membedakan keduanya sehingga hasil akhir menjadi berbalik 180 derajat?.
Jawabannya sederhana, kuncinya terletak pada bagaimana kedua ibu muda ini mengendalikan pikiran bawah sadar dan attitude mereka terhadap informasi yang diterima.
Belief, sekali lagi dengan positive belief, maka kita akan bisa melampaui batasan-batasan yang dibuat manusia.
Batasan-batasan tersebut hakikatnya adalah tembok penghalang yang besar, tinggi dan kokoh, yang menutup mata kita dari kekuatan potensi diri yang sangat hebat.
Saya yakin, 90% manusia di dunia ini belum mengeluarkan semua yang terbaik dalam diri mereka untuk mencapai batasan optimum dalam hidupnya.
Ingatlah, batasan itu hanyalah batasan yang Anda dipikiran kita.
Kesimpulannya, bukan ramalan yang menentukan apakah kita sukses atau tidak, melainkan attitude kita terhadap belief yang kita percayai.
Live your life with passion!
Empati
EMPATI
By: Andy F Noya
Suatu malam, sepulang kerja, saya mampir di sebuah restoran cepat saji
di kawasan Bintaro. Suasana sepi. Di luar hujan. Semua pelayan sudah berkemas.
Restoran hendak tutup. Tetapi mungkin melihat wajah saya yang memelas
karena lapar, salah seorang dari mereka memberi aba-aba untuk tetap
melayani. Padahal, jika mau, bisa saja mereka menolak.
Sembari makan saya mulai mengamati kegiatan para pelayan restoran. Ada
yang menghitung uang, mengemas peralatan masak, mengepel lantai dan ada pula
yang membersihkan dan merapikan meja-meja yang berantakan.
Saya membayangkan rutinitas kehidupan mereka seperti itu dari hari ke hari.
Selama ini hal tersebut luput dari perhatian saya. Jujur saja, jika
menemani anak-anak makan di restoran cepat saji seperti ini, saya tidak
terlalu hirau akan keberadaan mereka. Seakan mereka antara ada dan tiada.
Mereka ada jika saya membutuhkan bantuan dan mereka serasa tiada jika
saya terlalu asyik menyantap makanan.
Namun malam itu saya bisa melihat sesuatu yang selama ini seakan tak
terlihat. Saya melihat bagaimana pelayan restoran itu membersihkan
sisa-sisa makanan di atas meja. Pemandangan yang sebenarnya biasa-biasa
saja. Tetapi, mungkin karena malam itu mata hati saya yang melihat,
pemandangan tersebut menjadi istimewa.
Melihat tumpukan sisa makan di atas salah satu meja yang sedang
dibersihkan, saya bertanya-tanya dalam hati: siapa sebenarnya yang baru
saja bersantap di meja itu? Kalau dilihat dari sisa-sisa makanan yang
berserakan, tampaknya rombongan yang cukup besar. Tetapi yang menarik
perhatian saya adalah bagaimana rombongan itu meninggalkan sampah bekas
makanan.
Sungguh pemandangan yang menjijikan. Tulang-tulang ayam berserakan di
atas meja. Padahal ada kotak-kotak karton yang bisa dijadikan tempat sampah.
Nasi di sana-sini. Belum lagi di bawah kolong meja juga kotor oleh
tumpahan remah-remah. Mungkin rombongan itu membawa anak-anak.
Meja tersebut bagaikan ladang pembantaian. Tulang belulang berserakan.
Saya tidak habis pikir bagaimana mereka begitu tega meninggalkan sampah
berserakan seperti itu. Tak terpikir oleh mereka betapa sisa-sisa
makanan yang menjijikan itu harus dibersihkan oleh seseorang, walau dia seorang
pelayan sekalipun.
Sejak malam itu saya mengambil keputusan untuk membuang sendiri sisa
makanan jika bersantap di restoran semacam itu. Saya juga meminta
anak-anak melakukan hal yang sama. Awalnya tidak mudah. Sebelum ini saya juga
pernah melakukannya. Tetapi perbuatan saya itu justru menjadi bahan tertawaan
teman-teman. Saya dibilang sok kebarat-baratan. Sok menunjukkan pernah
ke luar negeri. Sebab di banyak negara, terutama di Eropa dan Amerika,
sudah jamak pelanggan membuang sendiri sisa makanan ke tong sampah. Pelayan
terbatas karena tenaga kerja mahal.
Sebenarnya tidak terlalu sulit membersihkan sisa-sisa makanan kita.
Tinggal meringkas lalu membuangnya di tempat sampah. Cuma butuh beberapa menit.
Sebuah perbuatan kecil. Tetapi jika semua orang melakukannya, artinya
akan besar sekali bagi para pelayan restoran.
Saya pernah membaca sebuah buku tentang perbuatan kecil yang punya arti
besar. Termasuk kisah seorang bapak yang mengajak anaknya untuk
membersihkan sampah di sebuah tanah kosong di kompleks rumah mereka.
Karena setiap hari warga kompleks melihat sang bapak dan anaknya membersihkan
sampah di situ, lama-lama mereka malu hati untuk membuang sampah di situ.
Belakangan seluruh warga bahkan tergerak untuk mengikuti jejak sang
bapak itu dan ujung-ujungnya lingkungan perumahan menjadi bersih dan sehat.
Padahal tidak ada satu kata pun dari bapak tersebut. Tidak ada slogan,
umbul-umbul, apalagi spanduk atau baliho. Dia hanya memberikan
keteladanan. Keteladanan kecil yang berdampak besar.
Saya juga pernah membaca cerita tentang kekuatan senyum. Jika saja
setiap orang memberi senyum kepada paling sedikit satu orang yang dijumpainya
hari itu, maka dampaknya akan luar biasa. Orang yang mendapat senyum akan
merasa bahagia. Dia lalu akan tersenyum pada orang lain yang dijumpainya.
Begitu seterusnya, sehingga senyum tadi meluas kepada banyak orang. Padahal
asal mulanya hanya dari satu orang yang tersenyum.
Terilhami oleh sebuah cerita di sebuah buku "Chicken Soup", saya kerap
membayar karcis tol bagi mobil di belakang saya. Tidak perduli siapa di
belakang. Sebab dari cerita di buku itu, orang di belakang saya pasti
akan merasa mendapat kejutan. Kejutan yang menyenangkan. Jika hari itu dia
bahagia, maka harinya yang indah akan membuat dia menyebarkan virus
kebahagiaan tersebut kepada orang-orang yang dia temui hari itu. Saya
berharap virus itu dapat menyebar ke banyak orang.
Bayangkan jika Anda memberi pujian yang tulus bagi minimal satu orang
setiap hari. Pujian itu akan memberi efek berantai ketika orang yang
Anda puji merasa bahagia dan menularkan virus kebahagiaan tersebut kepada
orang-orang di sekitarnya.
Anak saya yang di SD selalu mengingatkan jika saya lupa mengucapkan kata
"terima kasih" saat petugas jalan tol memberikan karcis dan uang kembalian.
Menurut dia, kata "terima kasih" merupakan "magic words" yang akan
membuat orang lain senang. Begitu juga kata "tolong" ketika kita meminta bantuan
orang lain, misalnya pembantu rumah tangga kita.
Dulu saya sering marah jika ada angkutan umum, misalnya bus, mikrolet,
bajaj, atau angkot seenaknya menyerobot mobil saya. Sampai suatu hari
istri saya mengingatkan bahwa saya harus berempati pada mereka. Para supir
kendaraan umum itu harus berjuang untuk mengejar setoran. "Sementara
kamu kan tidak mengejar setoran?'' Nasihat itu diperoleh istri saya dari
sebuah tulisan almarhum Romo Mangunwijaya. Sejak saat itu, jika ada kendaraan
umum yang menyerobot seenak udelnya, saya segera teringat nasihat istri tersebut.
Saya membayangkan, alangkah indahnya hidup kita jika kita dapat membuat
orang lain bahagia. Alangkah menyenangkannya jika kita bisa berempati
pada perasaan orang lain. Betapa bahagianya jika kita menyadari dengan
membuang sisa makanan kita di restoran cepat saji, kita sudah meringankan
pekerjaan pelayan restoran.
Begitu juga dengan tidak membuang karcis tol begitu saja setelah
membayar, kita sudah meringankan beban petugas kebersihan. Dengan tidak membuang
permen karet sembarangan, kita sudah menghindari orang dari perasaan
kesal karena sepatu atau celananya lengket kena permen karet.
Kita sering mengaku bangsa yang berbudaya tinggi tetapi berapa banyak di
antara kita yang ketika berada di tempat-tempat publik, ketika membuka
pintu, menahannya sebentar dan menoleh kebelakang untuk berjaga-jaga
apakah ada orang lain di belakang kita? Saya pribadi sering melihat orang yang
membuka pintu lalu melepaskannya begitu saja tanpa perduli orang di
belakangnya terbentur oleh pintu tersebut.
Jika kita mau, banyak hal kecil bisa kita lakukan. Hal yang tidak
memberatkan kita tetapi besar artinya bagi orang lain. Mulailah dari
hal-hal kecil-kecil. Mulailah dari diri Anda lebih dulu. Mulailah
sekarang juga.
By: Andy F Noya
Suatu malam, sepulang kerja, saya mampir di sebuah restoran cepat saji
di kawasan Bintaro. Suasana sepi. Di luar hujan. Semua pelayan sudah berkemas.
Restoran hendak tutup. Tetapi mungkin melihat wajah saya yang memelas
karena lapar, salah seorang dari mereka memberi aba-aba untuk tetap
melayani. Padahal, jika mau, bisa saja mereka menolak.
Sembari makan saya mulai mengamati kegiatan para pelayan restoran. Ada
yang menghitung uang, mengemas peralatan masak, mengepel lantai dan ada pula
yang membersihkan dan merapikan meja-meja yang berantakan.
Saya membayangkan rutinitas kehidupan mereka seperti itu dari hari ke hari.
Selama ini hal tersebut luput dari perhatian saya. Jujur saja, jika
menemani anak-anak makan di restoran cepat saji seperti ini, saya tidak
terlalu hirau akan keberadaan mereka. Seakan mereka antara ada dan tiada.
Mereka ada jika saya membutuhkan bantuan dan mereka serasa tiada jika
saya terlalu asyik menyantap makanan.
Namun malam itu saya bisa melihat sesuatu yang selama ini seakan tak
terlihat. Saya melihat bagaimana pelayan restoran itu membersihkan
sisa-sisa makanan di atas meja. Pemandangan yang sebenarnya biasa-biasa
saja. Tetapi, mungkin karena malam itu mata hati saya yang melihat,
pemandangan tersebut menjadi istimewa.
Melihat tumpukan sisa makan di atas salah satu meja yang sedang
dibersihkan, saya bertanya-tanya dalam hati: siapa sebenarnya yang baru
saja bersantap di meja itu? Kalau dilihat dari sisa-sisa makanan yang
berserakan, tampaknya rombongan yang cukup besar. Tetapi yang menarik
perhatian saya adalah bagaimana rombongan itu meninggalkan sampah bekas
makanan.
Sungguh pemandangan yang menjijikan. Tulang-tulang ayam berserakan di
atas meja. Padahal ada kotak-kotak karton yang bisa dijadikan tempat sampah.
Nasi di sana-sini. Belum lagi di bawah kolong meja juga kotor oleh
tumpahan remah-remah. Mungkin rombongan itu membawa anak-anak.
Meja tersebut bagaikan ladang pembantaian. Tulang belulang berserakan.
Saya tidak habis pikir bagaimana mereka begitu tega meninggalkan sampah
berserakan seperti itu. Tak terpikir oleh mereka betapa sisa-sisa
makanan yang menjijikan itu harus dibersihkan oleh seseorang, walau dia seorang
pelayan sekalipun.
Sejak malam itu saya mengambil keputusan untuk membuang sendiri sisa
makanan jika bersantap di restoran semacam itu. Saya juga meminta
anak-anak melakukan hal yang sama. Awalnya tidak mudah. Sebelum ini saya juga
pernah melakukannya. Tetapi perbuatan saya itu justru menjadi bahan tertawaan
teman-teman. Saya dibilang sok kebarat-baratan. Sok menunjukkan pernah
ke luar negeri. Sebab di banyak negara, terutama di Eropa dan Amerika,
sudah jamak pelanggan membuang sendiri sisa makanan ke tong sampah. Pelayan
terbatas karena tenaga kerja mahal.
Sebenarnya tidak terlalu sulit membersihkan sisa-sisa makanan kita.
Tinggal meringkas lalu membuangnya di tempat sampah. Cuma butuh beberapa menit.
Sebuah perbuatan kecil. Tetapi jika semua orang melakukannya, artinya
akan besar sekali bagi para pelayan restoran.
Saya pernah membaca sebuah buku tentang perbuatan kecil yang punya arti
besar. Termasuk kisah seorang bapak yang mengajak anaknya untuk
membersihkan sampah di sebuah tanah kosong di kompleks rumah mereka.
Karena setiap hari warga kompleks melihat sang bapak dan anaknya membersihkan
sampah di situ, lama-lama mereka malu hati untuk membuang sampah di situ.
Belakangan seluruh warga bahkan tergerak untuk mengikuti jejak sang
bapak itu dan ujung-ujungnya lingkungan perumahan menjadi bersih dan sehat.
Padahal tidak ada satu kata pun dari bapak tersebut. Tidak ada slogan,
umbul-umbul, apalagi spanduk atau baliho. Dia hanya memberikan
keteladanan. Keteladanan kecil yang berdampak besar.
Saya juga pernah membaca cerita tentang kekuatan senyum. Jika saja
setiap orang memberi senyum kepada paling sedikit satu orang yang dijumpainya
hari itu, maka dampaknya akan luar biasa. Orang yang mendapat senyum akan
merasa bahagia. Dia lalu akan tersenyum pada orang lain yang dijumpainya.
Begitu seterusnya, sehingga senyum tadi meluas kepada banyak orang. Padahal
asal mulanya hanya dari satu orang yang tersenyum.
Terilhami oleh sebuah cerita di sebuah buku "Chicken Soup", saya kerap
membayar karcis tol bagi mobil di belakang saya. Tidak perduli siapa di
belakang. Sebab dari cerita di buku itu, orang di belakang saya pasti
akan merasa mendapat kejutan. Kejutan yang menyenangkan. Jika hari itu dia
bahagia, maka harinya yang indah akan membuat dia menyebarkan virus
kebahagiaan tersebut kepada orang-orang yang dia temui hari itu. Saya
berharap virus itu dapat menyebar ke banyak orang.
Bayangkan jika Anda memberi pujian yang tulus bagi minimal satu orang
setiap hari. Pujian itu akan memberi efek berantai ketika orang yang
Anda puji merasa bahagia dan menularkan virus kebahagiaan tersebut kepada
orang-orang di sekitarnya.
Anak saya yang di SD selalu mengingatkan jika saya lupa mengucapkan kata
"terima kasih" saat petugas jalan tol memberikan karcis dan uang kembalian.
Menurut dia, kata "terima kasih" merupakan "magic words" yang akan
membuat orang lain senang. Begitu juga kata "tolong" ketika kita meminta bantuan
orang lain, misalnya pembantu rumah tangga kita.
Dulu saya sering marah jika ada angkutan umum, misalnya bus, mikrolet,
bajaj, atau angkot seenaknya menyerobot mobil saya. Sampai suatu hari
istri saya mengingatkan bahwa saya harus berempati pada mereka. Para supir
kendaraan umum itu harus berjuang untuk mengejar setoran. "Sementara
kamu kan tidak mengejar setoran?'' Nasihat itu diperoleh istri saya dari
sebuah tulisan almarhum Romo Mangunwijaya. Sejak saat itu, jika ada kendaraan
umum yang menyerobot seenak udelnya, saya segera teringat nasihat istri tersebut.
Saya membayangkan, alangkah indahnya hidup kita jika kita dapat membuat
orang lain bahagia. Alangkah menyenangkannya jika kita bisa berempati
pada perasaan orang lain. Betapa bahagianya jika kita menyadari dengan
membuang sisa makanan kita di restoran cepat saji, kita sudah meringankan
pekerjaan pelayan restoran.
Begitu juga dengan tidak membuang karcis tol begitu saja setelah
membayar, kita sudah meringankan beban petugas kebersihan. Dengan tidak membuang
permen karet sembarangan, kita sudah menghindari orang dari perasaan
kesal karena sepatu atau celananya lengket kena permen karet.
Kita sering mengaku bangsa yang berbudaya tinggi tetapi berapa banyak di
antara kita yang ketika berada di tempat-tempat publik, ketika membuka
pintu, menahannya sebentar dan menoleh kebelakang untuk berjaga-jaga
apakah ada orang lain di belakang kita? Saya pribadi sering melihat orang yang
membuka pintu lalu melepaskannya begitu saja tanpa perduli orang di
belakangnya terbentur oleh pintu tersebut.
Jika kita mau, banyak hal kecil bisa kita lakukan. Hal yang tidak
memberatkan kita tetapi besar artinya bagi orang lain. Mulailah dari
hal-hal kecil-kecil. Mulailah dari diri Anda lebih dulu. Mulailah
sekarang juga.
Inspirasi
Sayangilah Ibumu
When You Divorce Me Carry Me Out In
Dapatkah Anda Meramal Masa Depan
Empati
Tips Darurat
Visi Yang Membuat IBM Bertahan
Kemanapun Sipintar Pergi Uang Mengikuti (Sejarah Intel)
Steve Jobs Mengawali Sukses Para Drop Out
Anak dan Tanggung Jawab Kita
Dibalik Kesuksesan Teh Botol Sosro
Break The Limit
Anak Kerang
Baju Yang Menipu
Mangkok Tanpa Alas
Fokus Pada Masalah atau Solusi ?
Kualitas Diri Pribadi
When You Divorce Me Carry Me Out In
Dapatkah Anda Meramal Masa Depan
Empati
Tips Darurat
Visi Yang Membuat IBM Bertahan
Kemanapun Sipintar Pergi Uang Mengikuti (Sejarah Intel)
Steve Jobs Mengawali Sukses Para Drop Out
Anak dan Tanggung Jawab Kita
Dibalik Kesuksesan Teh Botol Sosro
Break The Limit
Anak Kerang
Baju Yang Menipu
Mangkok Tanpa Alas
Fokus Pada Masalah atau Solusi ?
Kualitas Diri Pribadi
Tips Darurat
Beberapa Hal Penting yang perlu kita waspadai dan dapat dilakukan sesuatu untuk mengatasinya.
Mudah-mudahan berguna untuk Kita semua :
1. Nomor darurat.
Nomor darurat untuk telepon genggam adalah 112. Jika anda sedang di daerah
yang tidak menerima sinyal HP dan perlu memanggil pertolongan, silahkan tekan 112, dan HP akan mencari network yang ada untuk menyambungkan nomor darurat bagi anda, dan yang menarik,nomor 112 dapat ditekan biarpun keypad dilock. Cobalah..
2. Kunci mobil anda ketinggalan di dalam mobil?
Anda memakai kunci remote?Kalau kunci anda ketinggalan dalam mobil dan remote cadangannya di rumah, tinggal telpon orang rumah dengan HP, lalu dekatkan HP andakurang lebih 30cmdari mobil, dan minta orang rumah untuk menekan tombol pembuka pada remote cadangan yang ada dirumah (waktu menekan tombol pembuka remote, minta orang rumah mendekatkan remotenya ke telepon yang dipakainya)
3. Baterai cadangan tersembunyi
Kalau baterai anda hampir habis, padahal anda sedang menunggu telpon penting, dan telpon anda dibuat olehNOKIA, silahkantekan *3370#, maka telpon anda otomatis restart danbaterai akan bertambah 50%. Baterai cadangan ini akan terisi waktu anda mencharge HP anda.
4. Tips untuk men-cek keabsahan mobil/motor anda(Jakarta area only)
Ketik :contoh metro b86301o (merah no polisi anda) Kirim ke 1717, nanti akan ada balasan darikepolisian mengenai data2kendaraan anda, tips ini juga berguna untukmengetahui data2 mobil bekasyang hendak anda beli/incar.
5. Jika anda sedang terancam jiwanya karena dirampok/ditodong seseorang untuk mengeluarkan uang dari atm
maka anda bisa minta pertolongan diam2 dengan memberikan nomor pin secara terbalik,misal no asli pin anda 1254 input 4521 di atm maka mesin akan mengeluarkan uang anda juga tanda bahaya ke kantor polisi tanpa diketahui pencuri tsb. Fasilitas ini tersedia di seluruh atm tapi hanya sedikit orang yang tahu tolong kasih tahu info kepada yang lain.
Mudah-mudahan berguna untuk Kita semua :
1. Nomor darurat.
Nomor darurat untuk telepon genggam adalah 112. Jika anda sedang di daerah
yang tidak menerima sinyal HP dan perlu memanggil pertolongan, silahkan tekan 112, dan HP akan mencari network yang ada untuk menyambungkan nomor darurat bagi anda, dan yang menarik,nomor 112 dapat ditekan biarpun keypad dilock. Cobalah..
2. Kunci mobil anda ketinggalan di dalam mobil?
Anda memakai kunci remote?Kalau kunci anda ketinggalan dalam mobil dan remote cadangannya di rumah, tinggal telpon orang rumah dengan HP, lalu dekatkan HP andakurang lebih 30cmdari mobil, dan minta orang rumah untuk menekan tombol pembuka pada remote cadangan yang ada dirumah (waktu menekan tombol pembuka remote, minta orang rumah mendekatkan remotenya ke telepon yang dipakainya)
3. Baterai cadangan tersembunyi
Kalau baterai anda hampir habis, padahal anda sedang menunggu telpon penting, dan telpon anda dibuat olehNOKIA, silahkantekan *3370#, maka telpon anda otomatis restart danbaterai akan bertambah 50%. Baterai cadangan ini akan terisi waktu anda mencharge HP anda.
4. Tips untuk men-cek keabsahan mobil/motor anda(Jakarta area only)
Ketik :contoh metro b86301o (merah no polisi anda) Kirim ke 1717, nanti akan ada balasan darikepolisian mengenai data2kendaraan anda, tips ini juga berguna untukmengetahui data2 mobil bekasyang hendak anda beli/incar.
5. Jika anda sedang terancam jiwanya karena dirampok/ditodong seseorang untuk mengeluarkan uang dari atm
maka anda bisa minta pertolongan diam2 dengan memberikan nomor pin secara terbalik,misal no asli pin anda 1254 input 4521 di atm maka mesin akan mengeluarkan uang anda juga tanda bahaya ke kantor polisi tanpa diketahui pencuri tsb. Fasilitas ini tersedia di seluruh atm tapi hanya sedikit orang yang tahu tolong kasih tahu info kepada yang lain.
Visi Yang Membuat IBM Bertahan
Oleh Andrianto Soekarnen
Setelah Perang Dunia II, Amerika Serikat boleh dikata menjelma menjadi negara administrasi. Tenaga kerja pertanian berbondong diboyong ke kota-kota besar. Ruang-ruang kantor diisi deretan meja dan tabulator (mesin hitung mekanik). Para pegawai disibukan pekerjaan administrasi seperti menghitung gaji dan tagihan.
Waktu itu, data identik dengan punch card atau kartu penyimpan data hasil olahan tabulator. Dalam masa pertumbuhan ekonomi yang demikian cepat, perusahaan asuransi, penerbit majalah, dan periset pasar menyusun daftar pelanggan di seluruh negeri dan menghasilkan lautan punch card.
Waktu itu, berkat pemahamannya akan bisnis mesin perkantoran dan [terutama] keahlian pemasarannya, International Business Machines (IBM) berhasil memonopoli pasar tabulator. Thomas Watson Sr., presiden direkturnya, menjadi eksekutif AS tersukses dan dijuluki Raja Punch Card.
Di perusahaan yang konservatif itu, nilai feodal masih melekat. Maka, tak seorang pun protes ketika Watson Sr. menyiapkan anaknya, Thomas Watson Jr., sebagai pengganti. Padahal, sebagai anak orang kaya, selama ini Watson Jr.
lebih dikenal sebagai playboy, penggemar mobil cepat, dan suka hura-hura. Ia adalah pengunjung tetap klub-klub di New York dan Hollywood.
Namun, ketika itu, berkat kemampuan memegang kendali atas paten dan pembinaan keahlian elektronika, tak ada yang perlu dicemaskan IBM.
Perusahaan itu bahkan tengah bersiap mengahadapi tantangan berikutnya dalam revolusi elektronika, yakni memasarkan mesin tik listrik dan kalkulator elektronik. Meski begitu, Watson Jr. ingin menemukan sesuatu yang baru.
Sesuatu yang akan melepaskannya dari bayang-bayang sang ayah.
Pada 1949, Watson Jr. mendengar pelanggan setia IBM, raksasa majalah Time-Life, berencana mengganti mesin IBM dengan Universal Automatic Computer (UNIVAC), komputer besar buatan perusahaan Remington Rand hasil rancangan Eckert-Mauchly (baca: "Asal Mula: Kemalangan Atanasoff"). Waktu itu, UNIVAC bisa menyimpan data dalam gulungan pita magnetik sehingga menghemat tempat.
Watson Jr. mencium marabahaya. Ia pun mengumpulkan para insinyur IBM dan memerintahkan penciptaan sebuah mesin yang dapat bersaing dengan UNIVAC.
Tim itu kembali beberapa minggu kemudian dengan sebuah alat penyimpanan punch card yang dilengkapi pita magnetik. Watson marah besar meski para pekerja IBM tak mengerti mengapa mereka harus meninggalkan punch card yang, waktu itu, masih membuat mereka kaya raya.
Di tahun yang sama, Uni Soviet (musuh bebuyutan AS di kala itu) melakukan percobaan peledakan bom atom yang membuat seantero Amerika panik.
Sewaktu-waktu mereka bisa diserang. Pemerintah AS lalu berencana memanfaatkan komputer raksasa yang digunakan pada sebuah proyek bernama Whirlwind di Cambridge, Massachusetts, untuk dijadikan otak dari pusat sistem pertahanan udara yang masif. Mereka membuka lelang pembuatan mesin sejenis karena dibutuhkan masing-masing dua komputer untuk ditempatkan di 6 lokasi berbeda. IBM segera memanfaatkan peluang dan memenangkan lelang.
Secara bisnis, proyek ini membuat IBM merugi. Tetapi, para ahli elektronika mereka bisa belajar banyak dari mesin Whirlwind. Diam-diam, Watson Jr.
menyiapkan sebuah tim khusus untuk membuat komputer besar versi IBM. Di akhir 1952, komputer model 701 keluar dari lini perakitan.
Waktu itu, hanya perusahaan besar yang mampu membeli komputer. Memanfaatkan reputasi yang baik dari era mesin tabulator, IBM secara agresif memasarkan komputer mereka. Berkat kerja keras lini pemasaran, perusahaan pengguna tabulator punch card segera beralih ke komputer IBM.
Pada 1956, IBM memimpin pasar dengan mengirimkan 449 komputer berukuran besar dan sedang. Sementara itu, pesanan yang belum terpenuhi mencapai 1.121 komputer. Saingan mereka, Sperry Rand (hasil merger Remington Rand dan Sperry Corporation) hanya berhasil menyerahkan 314 UNIVAC dengan tambahan
113 pesanan yang belum terpenuhi.
Berkat mainframe (komputer besar) IBM, Tom Watson Jr. mendapat kemasyuran melebihi ayahnya. Ia dinobatkan sebagai Raja Mainframe. Namun, yang terpenting, berkat kesiagaan Watson Jr., IBM mampu bertahan di tengah dunia perkantoran yang terus berubah.
Setelah Perang Dunia II, Amerika Serikat boleh dikata menjelma menjadi negara administrasi. Tenaga kerja pertanian berbondong diboyong ke kota-kota besar. Ruang-ruang kantor diisi deretan meja dan tabulator (mesin hitung mekanik). Para pegawai disibukan pekerjaan administrasi seperti menghitung gaji dan tagihan.
Waktu itu, data identik dengan punch card atau kartu penyimpan data hasil olahan tabulator. Dalam masa pertumbuhan ekonomi yang demikian cepat, perusahaan asuransi, penerbit majalah, dan periset pasar menyusun daftar pelanggan di seluruh negeri dan menghasilkan lautan punch card.
Waktu itu, berkat pemahamannya akan bisnis mesin perkantoran dan [terutama] keahlian pemasarannya, International Business Machines (IBM) berhasil memonopoli pasar tabulator. Thomas Watson Sr., presiden direkturnya, menjadi eksekutif AS tersukses dan dijuluki Raja Punch Card.
Di perusahaan yang konservatif itu, nilai feodal masih melekat. Maka, tak seorang pun protes ketika Watson Sr. menyiapkan anaknya, Thomas Watson Jr., sebagai pengganti. Padahal, sebagai anak orang kaya, selama ini Watson Jr.
lebih dikenal sebagai playboy, penggemar mobil cepat, dan suka hura-hura. Ia adalah pengunjung tetap klub-klub di New York dan Hollywood.
Namun, ketika itu, berkat kemampuan memegang kendali atas paten dan pembinaan keahlian elektronika, tak ada yang perlu dicemaskan IBM.
Perusahaan itu bahkan tengah bersiap mengahadapi tantangan berikutnya dalam revolusi elektronika, yakni memasarkan mesin tik listrik dan kalkulator elektronik. Meski begitu, Watson Jr. ingin menemukan sesuatu yang baru.
Sesuatu yang akan melepaskannya dari bayang-bayang sang ayah.
Pada 1949, Watson Jr. mendengar pelanggan setia IBM, raksasa majalah Time-Life, berencana mengganti mesin IBM dengan Universal Automatic Computer (UNIVAC), komputer besar buatan perusahaan Remington Rand hasil rancangan Eckert-Mauchly (baca: "Asal Mula: Kemalangan Atanasoff"). Waktu itu, UNIVAC bisa menyimpan data dalam gulungan pita magnetik sehingga menghemat tempat.
Watson Jr. mencium marabahaya. Ia pun mengumpulkan para insinyur IBM dan memerintahkan penciptaan sebuah mesin yang dapat bersaing dengan UNIVAC.
Tim itu kembali beberapa minggu kemudian dengan sebuah alat penyimpanan punch card yang dilengkapi pita magnetik. Watson marah besar meski para pekerja IBM tak mengerti mengapa mereka harus meninggalkan punch card yang, waktu itu, masih membuat mereka kaya raya.
Di tahun yang sama, Uni Soviet (musuh bebuyutan AS di kala itu) melakukan percobaan peledakan bom atom yang membuat seantero Amerika panik.
Sewaktu-waktu mereka bisa diserang. Pemerintah AS lalu berencana memanfaatkan komputer raksasa yang digunakan pada sebuah proyek bernama Whirlwind di Cambridge, Massachusetts, untuk dijadikan otak dari pusat sistem pertahanan udara yang masif. Mereka membuka lelang pembuatan mesin sejenis karena dibutuhkan masing-masing dua komputer untuk ditempatkan di 6 lokasi berbeda. IBM segera memanfaatkan peluang dan memenangkan lelang.
Secara bisnis, proyek ini membuat IBM merugi. Tetapi, para ahli elektronika mereka bisa belajar banyak dari mesin Whirlwind. Diam-diam, Watson Jr.
menyiapkan sebuah tim khusus untuk membuat komputer besar versi IBM. Di akhir 1952, komputer model 701 keluar dari lini perakitan.
Waktu itu, hanya perusahaan besar yang mampu membeli komputer. Memanfaatkan reputasi yang baik dari era mesin tabulator, IBM secara agresif memasarkan komputer mereka. Berkat kerja keras lini pemasaran, perusahaan pengguna tabulator punch card segera beralih ke komputer IBM.
Pada 1956, IBM memimpin pasar dengan mengirimkan 449 komputer berukuran besar dan sedang. Sementara itu, pesanan yang belum terpenuhi mencapai 1.121 komputer. Saingan mereka, Sperry Rand (hasil merger Remington Rand dan Sperry Corporation) hanya berhasil menyerahkan 314 UNIVAC dengan tambahan
113 pesanan yang belum terpenuhi.
Berkat mainframe (komputer besar) IBM, Tom Watson Jr. mendapat kemasyuran melebihi ayahnya. Ia dinobatkan sebagai Raja Mainframe. Namun, yang terpenting, berkat kesiagaan Watson Jr., IBM mampu bertahan di tengah dunia perkantoran yang terus berubah.
Kemanapun si pintar pergi, uang mengikuti (Sejarah Intel)
Oleh Andrianto Soekarnen
Pada 1955, menyaksikan sukses Texas Instrument (TI) yang melibatkan salah seorang mantan anak buahnya, William Shockley mendirikan perusahaan sendiri, Shockley Instrument (SI). Tentunya setiap insinyur semikonduktor ingin bergabung dengan penemu transistor tersebut. Dengan cepat perusahaan tersebut diisi orang-orang yang meyakini bahwa masa depan akan ditentukan potongan material bernama semikonduktor.
Tetapi, meski TI telah menunjukkan sukses transistor berbahan silikon, Shockley bersikukuh menggunakan germanium. Ia memang sangat ahli dengan bahan yang satu itu. Salah satu hasil produksi pertama SI adalah dioda (penyearah arus listrik).
Rupanya, beberapa insinyur muda tak puas akan pilihan Shockley. Mereka ingin hijrah ke silikon. Tapi, siapa yang bisa menentang sang maestro? Apalagi, di tahun 1956, lelaki itu baru saja mendapatkan Nobel Fisika bersama John Bardeen dan William Brattain. Shockley yang memang berperangai buruk--jangan harap ada sapaan hello darinya--semakin sok kuasa.
Pada 1957, sekelompok insinyur di bawah pimpinan Robert Noyce memilih keluar. Mereka lalu ditampung Fairchild Semiconductor (FS), divisi semikonduktor dari Fairchild Camera & Instrument (FCI). Noyce memiliki karisma kuat. Selain paham dunia semikonduktor, ia mengerti bahwa pada dasarnya bisnis tersebut juga digerakan ilmu ekonomi. Ia tahu arti penting pasar dan karenanya disukai para investor. (FCI menanamkan $32 juta pada kegiatan Noyce dkk. Investasi itu dibalas dengan penjualan yang berlipat dua setiap tahun. Pada pertengahan 1960, divisi FS telah menghasilkan $140 juta atau dua pertiga dari pendapatan total FCI.)
Masih di tahun 1957, Amerika Serikat dikejutkan kemampuan Uni Soviet meluncurkan satelit Sputnik. Kejutan itu memacu perlombaan untuk memperkecil semua peralatan elektronika. Selama ini, upaya AS meluncurkan roket dan satelit terbentur persoalan bobot. Benda seberat 1 pound memerlukan bahan bakar roket senilai $100 ribu. Berat Sputnik 200 pound.
Solusinya adalah memampatkan rangkaian elektronika yang terdiri dari transistor, dioda, resistor, dan kapasitor dalam satu suku cadang. Upaya ini tentunya sangat rumit. Sebagai ilustrasi, di tahun 1958, komputer yang paling canggih terdiri atas 25 ribu transistor, 100 ribu dioda, serta ratusan ribu resistor dan kapasitor.
Noyce berpandangan bahwa memampatkan komponen elektronika pertama-tama harus dimulai dari membuat semua komponen berbahan sama, yakni semikonduktor.
Padahal, resistor biasa dibuat dari bahan karbon sedangkan kapasitor dari porselen. Bila bahan pembuatnya sudah sama, masalah selanjutnya hanya persoalan desain. Dari situ lahirlah ide pembuatan komponen elektronika bernama sirkuit terpadu atau integrated circuit (IC) yang juga dikenal sebagai chip. FS segera bergerak ke bidang IC dan meraup keuntungan
Pada 1955, menyaksikan sukses Texas Instrument (TI) yang melibatkan salah seorang mantan anak buahnya, William Shockley mendirikan perusahaan sendiri, Shockley Instrument (SI). Tentunya setiap insinyur semikonduktor ingin bergabung dengan penemu transistor tersebut. Dengan cepat perusahaan tersebut diisi orang-orang yang meyakini bahwa masa depan akan ditentukan potongan material bernama semikonduktor.
Tetapi, meski TI telah menunjukkan sukses transistor berbahan silikon, Shockley bersikukuh menggunakan germanium. Ia memang sangat ahli dengan bahan yang satu itu. Salah satu hasil produksi pertama SI adalah dioda (penyearah arus listrik).
Rupanya, beberapa insinyur muda tak puas akan pilihan Shockley. Mereka ingin hijrah ke silikon. Tapi, siapa yang bisa menentang sang maestro? Apalagi, di tahun 1956, lelaki itu baru saja mendapatkan Nobel Fisika bersama John Bardeen dan William Brattain. Shockley yang memang berperangai buruk--jangan harap ada sapaan hello darinya--semakin sok kuasa.
Pada 1957, sekelompok insinyur di bawah pimpinan Robert Noyce memilih keluar. Mereka lalu ditampung Fairchild Semiconductor (FS), divisi semikonduktor dari Fairchild Camera & Instrument (FCI). Noyce memiliki karisma kuat. Selain paham dunia semikonduktor, ia mengerti bahwa pada dasarnya bisnis tersebut juga digerakan ilmu ekonomi. Ia tahu arti penting pasar dan karenanya disukai para investor. (FCI menanamkan $32 juta pada kegiatan Noyce dkk. Investasi itu dibalas dengan penjualan yang berlipat dua setiap tahun. Pada pertengahan 1960, divisi FS telah menghasilkan $140 juta atau dua pertiga dari pendapatan total FCI.)
Masih di tahun 1957, Amerika Serikat dikejutkan kemampuan Uni Soviet meluncurkan satelit Sputnik. Kejutan itu memacu perlombaan untuk memperkecil semua peralatan elektronika. Selama ini, upaya AS meluncurkan roket dan satelit terbentur persoalan bobot. Benda seberat 1 pound memerlukan bahan bakar roket senilai $100 ribu. Berat Sputnik 200 pound.
Solusinya adalah memampatkan rangkaian elektronika yang terdiri dari transistor, dioda, resistor, dan kapasitor dalam satu suku cadang. Upaya ini tentunya sangat rumit. Sebagai ilustrasi, di tahun 1958, komputer yang paling canggih terdiri atas 25 ribu transistor, 100 ribu dioda, serta ratusan ribu resistor dan kapasitor.
Noyce berpandangan bahwa memampatkan komponen elektronika pertama-tama harus dimulai dari membuat semua komponen berbahan sama, yakni semikonduktor.
Padahal, resistor biasa dibuat dari bahan karbon sedangkan kapasitor dari porselen. Bila bahan pembuatnya sudah sama, masalah selanjutnya hanya persoalan desain. Dari situ lahirlah ide pembuatan komponen elektronika bernama sirkuit terpadu atau integrated circuit (IC) yang juga dikenal sebagai chip. FS segera bergerak ke bidang IC dan meraup keuntungan
Steve Jobs mengawali deretan sukses para drop out
Oleh Andrianto Soekarnen
Di awal 1970-an, setelah gagal di tingkat dua Reed College Portland, Oregon, Steve Jobs pergi berkelana, mencari pencerahan, ke India. Ia telah menjual semua miliknya. Di Negara Anak Benua itu, Jobs merasakan sendiri kemiskinan.
Ia juga mengunjungi seorang guru yang ternyata lebih tertarik pada seks ketimbang agama. Dan, akhirnya, ia nyaris mati di sebuah selokan karena terjadi banjir bandang. Maka, lelaki 19 tahun itu mendapat pencerahan.
Ternyata, karya Thomas Edison lebih berguna ketimbang semua agama di Dunia Timur digabungkan.
Kembali Cupertino di Lembah Silikon, California, Jobs menemui sahabatnya, Steve Wozniak. Keduanya memang klop, suka ugal-ugalan dan seenaknya. Tapi, Woz yang kuper punya satu keistimewaan, yakni mahir elektronika. Lelaki gempal itu hidup di alam semikonduktor dan silikon, pameran ilmiah, klub elektronika, dan toko suku cadang bekas.
Pada 1975, Woz kebetulan melihat pengumuman pertemuan klub komputer. "Apakah kamu ingin membuat komputer sendiri," kata iklan itu. Woz pun bergabung dengan Homebrew Club dan berkumpul dengan sesama wirehead (sebutan bagi para penggemar elektronika). Ia segera bisa menggambar skema komputer sendiri.
Waktu itu, mikroprosesor (rangkaian otak dari komputer) telah dijual secara luas.
Suatu kali, Jobs menemani Woz ke Homebrew. Ia terpesona oleh antusiasme dan jumlah para wirehead. Ia melihat peluang bisnis. Jobs segera meyakinkan Woz untuk berjualan komputer. Proyek awal mereka adalah membuat sebuah papan "kit" pemroses sentral. Kit itu bisa dimanfaatkan untuk berbagai keperluan asalkan ditambahi rangkaian dan program tambahan. Tugas yang terakhir itu diserahkan kepada pembeli, yaitu para wirehead tadi.
Jobs dan Woz menyebut bisnis mereka Apple Computer (sama dengan titel album rekaman The Beatles) dan menamakan produk mereka Apple I. Untuk mendanai usaha itu, Jobs menjual Volkswagen-nya seharga $1.300 dan Woz (yang saat itu bekerja di perusahaan Hewlett-Packard) menjual kalkulator HP 35 miliknya seharga $200. Mereka bekerja di garasi rumah Jobs.
Apple I lumayan sukses. Sebuah toko elektronika, Byte Shop, bersedia membeli 50 buat kit dengan total harga $25.000, sebuah angka yang sangat banyak bagi Jobs dan Woz. Pada akhirnya, Apple I terjual 200 unit.
Ketika mengikuti pameran komputer di Atlantic City, pada 1976, Jobs sadar bahwa, jika ingin maju, ia harus menciptakan sesuatu yang jauh lebih berdaya guna. Waktu itu, hanya sedikit pengunjung berhenti di stand Apple. Jobs memperkirakan Apple membutuhkan 3 hal: komputer yang lebih baik, publisitas, dan modal. Ia segera mengupayakan ketiganya.
Untuk publisitas, Jobs mengontak ahli humas dan pemasaran Regs McKenna. Dana datang dari mantan karyawan Intel, Mike Markkula. Soal komputer, mereka menciptakan Apple II. Selain teknologinya yang canggih, perangkat itu memiliki desain yang ciamik (sesatu yang akan menjadi ciri khas Apple).
Keistimewaan lain, Apple II bisa dihubungkan ke televisi sehingga pembeli bisa mendapat tampilan grafik berwarna (waktu itu, layar monitor umumnya masih dua warna: dasar hitam dengan karakter hijau menyala).
Berkat sukses Apple II, perusahaan tersebut siap masuk bursa saham. Waktu itu, modal ventura Xerox (raksasa pembuat mesin fotocopy) berniat ikut masuk Apple. Jobs memberi syarat. Xerox boleh masuk Apple asal ia dibiarkan melihat-lihat Xerox Palo Alto Research Center (Xerox PARC).
Xerox PARC yang terletak tak jauh dari kampus Stanford University merupakan lembaga riset swasta ternama. Ia bertujuan mengembangkan teknologi untuk kantor masa depan. Tempat itu mengumpulkan lulusan universitas tercerdas dan membebaskan mereka melakukan apapun yang diinginkan.
Ketika berjalan-jalan di Xerox PARC, pandangan anak-anak Apple segera terbuka. Mereka menemukan apa yang di kemudian hari akan dikenal sebagai windows. Teknik itu memanfaatkan tampilan grafis sebagai medium komunikasi antara pengguna dengan komputer. (Selama ini, komunikasi sebatas dilakukan melalui perintah yang diketikan.)
Jobs segera mengadopsi prinsip windows untuk komputer Apple terbaru. Tapi, produk itu ternyata tak akan pernah sukses secara komersial. Malah, konsep tersebut kemudian ditiru lagi oleh Microsoft. Revolusi digital memasuki tahapan baru, yakni era perangkat lunak.
Di awal 1970-an, setelah gagal di tingkat dua Reed College Portland, Oregon, Steve Jobs pergi berkelana, mencari pencerahan, ke India. Ia telah menjual semua miliknya. Di Negara Anak Benua itu, Jobs merasakan sendiri kemiskinan.
Ia juga mengunjungi seorang guru yang ternyata lebih tertarik pada seks ketimbang agama. Dan, akhirnya, ia nyaris mati di sebuah selokan karena terjadi banjir bandang. Maka, lelaki 19 tahun itu mendapat pencerahan.
Ternyata, karya Thomas Edison lebih berguna ketimbang semua agama di Dunia Timur digabungkan.
Kembali Cupertino di Lembah Silikon, California, Jobs menemui sahabatnya, Steve Wozniak. Keduanya memang klop, suka ugal-ugalan dan seenaknya. Tapi, Woz yang kuper punya satu keistimewaan, yakni mahir elektronika. Lelaki gempal itu hidup di alam semikonduktor dan silikon, pameran ilmiah, klub elektronika, dan toko suku cadang bekas.
Pada 1975, Woz kebetulan melihat pengumuman pertemuan klub komputer. "Apakah kamu ingin membuat komputer sendiri," kata iklan itu. Woz pun bergabung dengan Homebrew Club dan berkumpul dengan sesama wirehead (sebutan bagi para penggemar elektronika). Ia segera bisa menggambar skema komputer sendiri.
Waktu itu, mikroprosesor (rangkaian otak dari komputer) telah dijual secara luas.
Suatu kali, Jobs menemani Woz ke Homebrew. Ia terpesona oleh antusiasme dan jumlah para wirehead. Ia melihat peluang bisnis. Jobs segera meyakinkan Woz untuk berjualan komputer. Proyek awal mereka adalah membuat sebuah papan "kit" pemroses sentral. Kit itu bisa dimanfaatkan untuk berbagai keperluan asalkan ditambahi rangkaian dan program tambahan. Tugas yang terakhir itu diserahkan kepada pembeli, yaitu para wirehead tadi.
Jobs dan Woz menyebut bisnis mereka Apple Computer (sama dengan titel album rekaman The Beatles) dan menamakan produk mereka Apple I. Untuk mendanai usaha itu, Jobs menjual Volkswagen-nya seharga $1.300 dan Woz (yang saat itu bekerja di perusahaan Hewlett-Packard) menjual kalkulator HP 35 miliknya seharga $200. Mereka bekerja di garasi rumah Jobs.
Apple I lumayan sukses. Sebuah toko elektronika, Byte Shop, bersedia membeli 50 buat kit dengan total harga $25.000, sebuah angka yang sangat banyak bagi Jobs dan Woz. Pada akhirnya, Apple I terjual 200 unit.
Ketika mengikuti pameran komputer di Atlantic City, pada 1976, Jobs sadar bahwa, jika ingin maju, ia harus menciptakan sesuatu yang jauh lebih berdaya guna. Waktu itu, hanya sedikit pengunjung berhenti di stand Apple. Jobs memperkirakan Apple membutuhkan 3 hal: komputer yang lebih baik, publisitas, dan modal. Ia segera mengupayakan ketiganya.
Untuk publisitas, Jobs mengontak ahli humas dan pemasaran Regs McKenna. Dana datang dari mantan karyawan Intel, Mike Markkula. Soal komputer, mereka menciptakan Apple II. Selain teknologinya yang canggih, perangkat itu memiliki desain yang ciamik (sesatu yang akan menjadi ciri khas Apple).
Keistimewaan lain, Apple II bisa dihubungkan ke televisi sehingga pembeli bisa mendapat tampilan grafik berwarna (waktu itu, layar monitor umumnya masih dua warna: dasar hitam dengan karakter hijau menyala).
Berkat sukses Apple II, perusahaan tersebut siap masuk bursa saham. Waktu itu, modal ventura Xerox (raksasa pembuat mesin fotocopy) berniat ikut masuk Apple. Jobs memberi syarat. Xerox boleh masuk Apple asal ia dibiarkan melihat-lihat Xerox Palo Alto Research Center (Xerox PARC).
Xerox PARC yang terletak tak jauh dari kampus Stanford University merupakan lembaga riset swasta ternama. Ia bertujuan mengembangkan teknologi untuk kantor masa depan. Tempat itu mengumpulkan lulusan universitas tercerdas dan membebaskan mereka melakukan apapun yang diinginkan.
Ketika berjalan-jalan di Xerox PARC, pandangan anak-anak Apple segera terbuka. Mereka menemukan apa yang di kemudian hari akan dikenal sebagai windows. Teknik itu memanfaatkan tampilan grafis sebagai medium komunikasi antara pengguna dengan komputer. (Selama ini, komunikasi sebatas dilakukan melalui perintah yang diketikan.)
Jobs segera mengadopsi prinsip windows untuk komputer Apple terbaru. Tapi, produk itu ternyata tak akan pernah sukses secara komersial. Malah, konsep tersebut kemudian ditiru lagi oleh Microsoft. Revolusi digital memasuki tahapan baru, yakni era perangkat lunak.
Anak dan Tanggung Jawab Kita
Oleh BAMBANG QOMARUZZAMAN
Seorang teman pernah bercerita soal anak dan tanggung jawab. Suatu hari
dia menyeberang jalan, di sebuah jalanan di Spanyol. Seperti biasa,sebagai orang Indonesia, ia menyeberang tanpa melalui zebra-cross. Saat itu memang tak ada mobil, sepi, juga tak ada polisi; kecuali seorang ibu
dengan anaknya yang masih balita. Begitu ia sampai ke seberang jalan,
terdengar teriakan si ibu dari seberang jalan yang baru saja ia tinggalkan.
"Hei..hei... ke Sini!!". Kira-kira begitu teriakan ibu itu.
Mendengar seorang ibu yang berteriak sambil melambaikan tangan, lagi
sebagai orang Indonesia, teman ini langsung kembali menyeberang. Pasti
ada apa-apa dengan ibu ini, ia butuh pertolongan. Sesampainya di dekat ibu
itu, ia dibentak, "Hai, kenapa kamu menyeberang bukan dari zebra-cross?
Tahukah kamu, kelakuanmu itu sudah mengajari anak saya melanggar
peraturan, kamu sudah menanamkan dalam memorinya bahwa melanggar peraturan
itu sesuatu yang biasa-biasa saja!"
Cerita ini mengagetkan teman saya, juga saya. Soal orang Indonesia
melanggar peraturan bukanlah hal yang mengejutkan. Namun argumen ibu itu
yang mengaitkan pelanggaran dengan masa depan anaknya itulah yang lebih
mengejutkan. Begitu pentingnya masa depan anak-anak bagi ibu itu, begitu
pentingnya ibu itu menjaga memori dan kesadaran anaknya agar tetap terjagadalam perbuatan baik. Bagaimana dengan kita?
Pertengahan bulan Juli ini, saya memiliki cerita yang lain tentang orang
tua dan anaknya. Kali ini dari tetangga-tetangga saya yang mau menyekolahkan anaknya di SMP. Konon, sang anak adalah juara umum di
sekolahnya dan dapat mengikuti test masuk SMP dengan mudah.
"Mudah-mudahan anak saya bisa masuk pilihan pertamanya!" harap sang bapak.
Tanggal 11 malam, sang bapak bertemu lagi dengan wajah yang muram, lebih
tepatnya penuh kekecewaan, "Anak saya gagal, semula nilainya 80, saya
sudah mengeceknya lewat SMS. Eh...kemarin nilainya jadi 67. Saya protes,
dan guru-guru di SMP itu minta maaf atas kekhilafannya. Lalu, mereka menawarkan jalan belakang, biasa dengan bayar sekian rupiah!" Tetangga
saya menolak untuk membayar, ia biarkan anaknya ke sekolah swasta saja.
"Saya tak mau anak saya belajar di sekolah pembohong!"
Menurut sahibul gosip, melorotnya nilai anak tetangga saya itu karena
ada beberapa anak lain yang nilainya rendah dikatrol dengan cara membayar
sekian rupiah. Tentu saja yang membayarnya adalah orang tua, dan yang
menerimanya adalah guru yang terhormat. Marilah kita bandingkan sikap
dan tanggung jawab kita pada anak-anak. Keputusan untuk membayar sejumlah
rupiah demi sang anak tentu didasari pilihan untuk memberikan kasih
saying yang terbaik buat sang anak, namun pada saat yang bersamaan kita telah
menanamkan racun pada kesadaran anak-anak itu.
Racun itu adalah, 1) uang bisa menyelesaikan segalanya;
2) tak usah berprestasi, biasa-biasa saja, nanti juga uang bisa
menambalnya.
Barangkali dari peristiwa kecil inilah korupsi membudaya. Tanpa sadar
kita melakukannya setiap hari, dan repotnya lagi kita melakukan itu di depan
anak-anak kita. Anak-anak yang masih polos itu pastilah telah mencatat
di relung kesadarannya dan menjadikannya falsafah hidup sepanjang hayat.
Terlebih lagi, peristiwa ini dialami sang anak di lembaga pendidikan
yang semua aspeknya merupakan nilai mulia yang harus ditiru dan diteladani.
Marilah kita bercermin lagi pada cerita yang lain. Cerita kali ini
datang dari salah seorang cucu Mahatma Ghandi. Ia dan anaknya pergi ke suatu
tempat. Karena acara sang ayah agak lama, sang anak diizinkan untuk
membawa mobil itu bagi keperluannya sendiri. "Syaratnya, jam sekian kamu
harus berada di sini, menjemput bapak!" ujar sang ayah. Pada jam yang
ditentukan sang anak belum kembali, menit demi menit sang anak belum
juga kembali. Sang ayah menunggu sampai beberapa jam. Lalu, sang anak datang
dan mengajukan permohonan maafnya.
"Baiklah kalau begitu," ujar sang ayah, "naikilah mobil itu,
bawalah pulang. Saya akan jalan kaki ke rumah!" Sang anak protes dan merasa
bersalah. Namun sang Ayah tetap saja jalan kaki sambil
berpesan,"Mengingka ri janji adalah kesalahan terbesar dalam hidup ini,
kamu sudah melakukannya padaku. Semua itu pastilah bukan kesalahanmu, itu
semua Karena saya salah mengajarimu, nak. Karena itu biarlah ayah menghukum
diri, menghukum kesalahan pendidikanku padamu!" Sejak saat itu, sang
anak tak pernah lagi mengingkari janji.
Seluruh kisah-kisah ini adalah bahan refleksi kita pada Hari Anak.
Benarkah kita serius merawat anak kita yang sering kita sebut sebagai
amanah (titipan) dari Allah? Betapa mulia kata-kata "amanah (titipan)
Allah".Padaistilah ini terlihat relasi antara Allah dan kita yang
sedemikian akrab,Allah percaya pada kita karena itu Dia menitipkan
sesuatu yang berharga.Lazimnya titipan, ia harus tetap seperti nilai awalnya.
Nilai awal sang anak adalah fitrah, dan harus tetap fitrah.
Fitrahnya adonan untuk dicetak, fitrahnya perhiasan untuk membuat bangga
pemakainya, fitrahnya sang anak tentu bukan untuk "dicetak" agar "membuat
bangga" orang tuanya. Sang anak adalah sebutir benih yang begitu
rapuh,butuh tanah yang baik dan pemeliharaan yang sesuai
takaran.Kecenderung an benih adalah terus mencari cahaya, tetapi putik
kecil bisa saja ditipu --diberi cahaya palsu-- dan memercayainya seumur
hidup.
Bisakah kita menjadi tanah, yang menerima amanat secara jujur? Tanah tak
pernah menumbuhkan semangka bila ia mendapatkan titipan benih padi.
Benih padi yang ditanam, tumbuhan padi pula yang tumbuh. Bisakah kita menerima
benih fithrah "anak kita" dan mengembangkannya menjadi fithrah yang
lebih baik? Sebuah hadis menyatakan bahwa setelah kematian menerpa kita, tak
ada yang bisa menolong dari siksa kubur kecuali doa dari kesalehan sang
anak.
Tentu saja, maksud hadis ini bila sang anak, "titipan Allah" itu,
telah kita jaga dan tumbuh tetap berada dalam fitrahnya, maka kita akan
mendapatkan hadiah dari Tuhan karena telah menjaga amanahnya dengan
baik.
Pada hari ini, ada baiknya kita menyempatkan diri untuk mengelus dan
mengecup lembut kening mereka. Kita layak meminta maaf karena selama ini
telah memberikan ruang hidup yang sumpek, penuh keluhan dan
pertengkaran,
serta tidak memberikan jaminan-moral. Kita pun layak memohon ampunan
pada Allah karena titipan-Nya belum dirawat secara baik.
Tersenyumlah, anak-anak menunggu ketulusan kita!***
Penulis, dosen pada Universitas Islam Negeri (UIN) Bandung
Seorang teman pernah bercerita soal anak dan tanggung jawab. Suatu hari
dia menyeberang jalan, di sebuah jalanan di Spanyol. Seperti biasa,sebagai orang Indonesia, ia menyeberang tanpa melalui zebra-cross. Saat itu memang tak ada mobil, sepi, juga tak ada polisi; kecuali seorang ibu
dengan anaknya yang masih balita. Begitu ia sampai ke seberang jalan,
terdengar teriakan si ibu dari seberang jalan yang baru saja ia tinggalkan.
"Hei..hei... ke Sini!!". Kira-kira begitu teriakan ibu itu.
Mendengar seorang ibu yang berteriak sambil melambaikan tangan, lagi
sebagai orang Indonesia, teman ini langsung kembali menyeberang. Pasti
ada apa-apa dengan ibu ini, ia butuh pertolongan. Sesampainya di dekat ibu
itu, ia dibentak, "Hai, kenapa kamu menyeberang bukan dari zebra-cross?
Tahukah kamu, kelakuanmu itu sudah mengajari anak saya melanggar
peraturan, kamu sudah menanamkan dalam memorinya bahwa melanggar peraturan
itu sesuatu yang biasa-biasa saja!"
Cerita ini mengagetkan teman saya, juga saya. Soal orang Indonesia
melanggar peraturan bukanlah hal yang mengejutkan. Namun argumen ibu itu
yang mengaitkan pelanggaran dengan masa depan anaknya itulah yang lebih
mengejutkan. Begitu pentingnya masa depan anak-anak bagi ibu itu, begitu
pentingnya ibu itu menjaga memori dan kesadaran anaknya agar tetap terjagadalam perbuatan baik. Bagaimana dengan kita?
Pertengahan bulan Juli ini, saya memiliki cerita yang lain tentang orang
tua dan anaknya. Kali ini dari tetangga-tetangga saya yang mau menyekolahkan anaknya di SMP. Konon, sang anak adalah juara umum di
sekolahnya dan dapat mengikuti test masuk SMP dengan mudah.
"Mudah-mudahan anak saya bisa masuk pilihan pertamanya!" harap sang bapak.
Tanggal 11 malam, sang bapak bertemu lagi dengan wajah yang muram, lebih
tepatnya penuh kekecewaan, "Anak saya gagal, semula nilainya 80, saya
sudah mengeceknya lewat SMS. Eh...kemarin nilainya jadi 67. Saya protes,
dan guru-guru di SMP itu minta maaf atas kekhilafannya. Lalu, mereka menawarkan jalan belakang, biasa dengan bayar sekian rupiah!" Tetangga
saya menolak untuk membayar, ia biarkan anaknya ke sekolah swasta saja.
"Saya tak mau anak saya belajar di sekolah pembohong!"
Menurut sahibul gosip, melorotnya nilai anak tetangga saya itu karena
ada beberapa anak lain yang nilainya rendah dikatrol dengan cara membayar
sekian rupiah. Tentu saja yang membayarnya adalah orang tua, dan yang
menerimanya adalah guru yang terhormat. Marilah kita bandingkan sikap
dan tanggung jawab kita pada anak-anak. Keputusan untuk membayar sejumlah
rupiah demi sang anak tentu didasari pilihan untuk memberikan kasih
saying yang terbaik buat sang anak, namun pada saat yang bersamaan kita telah
menanamkan racun pada kesadaran anak-anak itu.
Racun itu adalah, 1) uang bisa menyelesaikan segalanya;
2) tak usah berprestasi, biasa-biasa saja, nanti juga uang bisa
menambalnya.
Barangkali dari peristiwa kecil inilah korupsi membudaya. Tanpa sadar
kita melakukannya setiap hari, dan repotnya lagi kita melakukan itu di depan
anak-anak kita. Anak-anak yang masih polos itu pastilah telah mencatat
di relung kesadarannya dan menjadikannya falsafah hidup sepanjang hayat.
Terlebih lagi, peristiwa ini dialami sang anak di lembaga pendidikan
yang semua aspeknya merupakan nilai mulia yang harus ditiru dan diteladani.
Marilah kita bercermin lagi pada cerita yang lain. Cerita kali ini
datang dari salah seorang cucu Mahatma Ghandi. Ia dan anaknya pergi ke suatu
tempat. Karena acara sang ayah agak lama, sang anak diizinkan untuk
membawa mobil itu bagi keperluannya sendiri. "Syaratnya, jam sekian kamu
harus berada di sini, menjemput bapak!" ujar sang ayah. Pada jam yang
ditentukan sang anak belum kembali, menit demi menit sang anak belum
juga kembali. Sang ayah menunggu sampai beberapa jam. Lalu, sang anak datang
dan mengajukan permohonan maafnya.
"Baiklah kalau begitu," ujar sang ayah, "naikilah mobil itu,
bawalah pulang. Saya akan jalan kaki ke rumah!" Sang anak protes dan merasa
bersalah. Namun sang Ayah tetap saja jalan kaki sambil
berpesan,"Mengingka ri janji adalah kesalahan terbesar dalam hidup ini,
kamu sudah melakukannya padaku. Semua itu pastilah bukan kesalahanmu, itu
semua Karena saya salah mengajarimu, nak. Karena itu biarlah ayah menghukum
diri, menghukum kesalahan pendidikanku padamu!" Sejak saat itu, sang
anak tak pernah lagi mengingkari janji.
Seluruh kisah-kisah ini adalah bahan refleksi kita pada Hari Anak.
Benarkah kita serius merawat anak kita yang sering kita sebut sebagai
amanah (titipan) dari Allah? Betapa mulia kata-kata "amanah (titipan)
Allah".Padaistilah ini terlihat relasi antara Allah dan kita yang
sedemikian akrab,Allah percaya pada kita karena itu Dia menitipkan
sesuatu yang berharga.Lazimnya titipan, ia harus tetap seperti nilai awalnya.
Nilai awal sang anak adalah fitrah, dan harus tetap fitrah.
Fitrahnya adonan untuk dicetak, fitrahnya perhiasan untuk membuat bangga
pemakainya, fitrahnya sang anak tentu bukan untuk "dicetak" agar "membuat
bangga" orang tuanya. Sang anak adalah sebutir benih yang begitu
rapuh,butuh tanah yang baik dan pemeliharaan yang sesuai
takaran.Kecenderung an benih adalah terus mencari cahaya, tetapi putik
kecil bisa saja ditipu --diberi cahaya palsu-- dan memercayainya seumur
hidup.
Bisakah kita menjadi tanah, yang menerima amanat secara jujur? Tanah tak
pernah menumbuhkan semangka bila ia mendapatkan titipan benih padi.
Benih padi yang ditanam, tumbuhan padi pula yang tumbuh. Bisakah kita menerima
benih fithrah "anak kita" dan mengembangkannya menjadi fithrah yang
lebih baik? Sebuah hadis menyatakan bahwa setelah kematian menerpa kita, tak
ada yang bisa menolong dari siksa kubur kecuali doa dari kesalehan sang
anak.
Tentu saja, maksud hadis ini bila sang anak, "titipan Allah" itu,
telah kita jaga dan tumbuh tetap berada dalam fitrahnya, maka kita akan
mendapatkan hadiah dari Tuhan karena telah menjaga amanahnya dengan
baik.
Pada hari ini, ada baiknya kita menyempatkan diri untuk mengelus dan
mengecup lembut kening mereka. Kita layak meminta maaf karena selama ini
telah memberikan ruang hidup yang sumpek, penuh keluhan dan
pertengkaran,
serta tidak memberikan jaminan-moral. Kita pun layak memohon ampunan
pada Allah karena titipan-Nya belum dirawat secara baik.
Tersenyumlah, anak-anak menunggu ketulusan kita!***
Penulis, dosen pada Universitas Islam Negeri (UIN) Bandung
Dibalik Kesuksesan Teh Botol Sosro
Friday, 02-11-2007 08:57:52 by M. T. Assyaukani
Kesuksesesan sosro dalam merebut hati konsumen Indonesia sesungguhnya dilihat dari aspek pemasaran cukup unik. Sosro,dalam beberapa hal, telah mengabaikan hukum-hukum umum yang terdapat di ilmu pemasaran. Misalnya saja mengenai perlunya riset pasar sebelum meluncurkan produk. Konon kabarnya sebelum sosro hadir, ada sebuah perusahaan asing yang ingin mengeluarkan produk teh dalam botol sepert yang dilakukan sosro saat ini. Kala itu sang perusahaan menyewa jasa sebuah biro riset pemasaran untuk menguji kelayakan dan prospek produk tersebut di Indonesia.
Setelah meneliti dan mengamati kebiasaan minum teh di masyarakat sang biro pun menyimpulkan bahwa produk ini tidak memiliki prospek bagus untuk dipasarkan di Indonesia. Biro itu beralasan bahwa budaya minum teh pada bangsa Indonesia umumnya dilakukan pagi hari dalam cangkir dan disajikan hangat sehingga kehadiran teh dalam kemasan botol justru akan dianggap sebuah keanehan.
Sosrodjojo, pendiri perusahaan sosro, justru berpikir sebaliknya. Awalnya ide kemasan botol berasal dari pengalaman tes cicip (on place test) di pasar-pasar tradisional terhadap teh tubruk cap botol. Pada demonstrasi pertama teh langsung diseduh di tempat dan disajikan pada calon konsumen yang menyaksikan.
Namun cara tersebut memakan waktu lama sehingga calon konsumen cenderung meninggalkan tempat. Kemudian pada uji berikutnya teh telah diseduh dari pabrik dan kemudian dimasukkan ke dalam tong-tong dan dibawa dengan mobil. Akan tetapu cara ini ternyata membuat banyak teh tumpah selama perjalanan karena saat itu struktur jalan belum sebaik sekarang. Akhirnya sosro mencoba untuk memasukkannya pada kemasan-kemasan botol limun agar mudah dibawa. Beranglkat dari itu merekaberpikir bahwa penggunaan kemasan botol adalah alternatif yang paling praktis dalam menghadirkan kenikmatan teh lansung ke konsumen.
Dari awal produk ini ditargetkan untuk konsumen yang sering melakukan perjalanan seperti supir dan pejalan kaki sosro . Sosro menyadari bahwa segmen konsumen ini memiliki keinginan hadirnya minuman yang dapat menghilangkan dahaga di tengah kelelahan dan kondisi panas selama perjalanan. Atribut kepuasan ini dicoba untuk dipenuhi dengan menghadirkan minuman teh dalam kemasan botol yang praktis dan tersedia di kios-kios sepanjang jalan. Untuk menambah nilai kepuasan teh botol ini disajikan dingin dengan menyediakan boks-boks es pada titik-titik penjualannya (penggunaan kulkas pada saat itu belum lazim).
Tentu saja merubah kebiasaan tak semudah membalik telapak tangan . Pada masa-masa awal peluncurannya, teh botol sosro tidak banyak dilirik oleh konsumen. Mereka justru menganggap aneh produk ini karena kemasan botol dan penyajian dinginnya. Namun sosro tidak patah arang. Perusahaan ini terus mengedukasi pasarnya melalui iklan-iklan di berbagai media dan promosi-promosi on the spot. Perlahan tapi pasti produk teh botol sosro mulai mendapatkan tempat di hati konsumen Indonesia. Terlebih ketika slogan "Apapun makannya, minumnya teh botol sosro" di munculkan. Slogan ini tidak saja mengguncang sesama produk teh namun juga produk minuman secara keseluruhan.
Keunikan kedua dari metode pemasaran teh botol sosro adalah pada kekakuan dari produk itu sendiri. Sesuai teori pemasaran, konsumen secara alami mengalami perubahan atribut kepuasan seiring berjalannya waktu. Perubahan itu dapat disebabkan karena gaya hidup, kondisi ekonomi, atau kecerdasan yang maik meningkat. Seiring perubahan pasar itu harusnya produk yang dipasarkan harus menyesuaikan dan mengikuti tren yang ada. Namun yang terjadi pada produk teh inovatif ini justru kebalikan. Semenjak diluncurkan pada tahun 1970, produk teh botol sosro baik rasa, kemasan logo maupun penampilan tidak mengalami perubahan sama sekali. Bahkan ketika perusahaan multinational Pepsi dan Coca cola masuk melalui produk teh Tekita dan Frestea, Sosro tetap tak bergeming. Alih-alih merubah produknya, dengan cerdas sosro justru melakukan counter branding dengan mengeluarkan produk S-tee dengan volue yang lebih besar. Strategi ini ternyata lebih tepat, kedua perusahaan multinasional itu pun tak berhasil berbuat banyak untuk merebut hati konsumen Indonesia.
Sekelumit kisah sukses sosro itu memberi pelajaran pada kita betapa pemasaran tidak hanya sekedar ilmu yang eksak. Faktor knowledge terkadang hanya memberi kontribusi kecil pada kesuksesan produk kita ketika dipasarkan. Faktor sisanya adalah seni dan intuisi yang dapat memandu para pemasar mencapai hasil yang di luar dugaan. Gabungan antara ketiganya lah yang dapat menghasilkan seorang pemasar yang jenius dan berpikir di luar kebiasaan yang Anda. Mungkin tidak banyak orang seperti itu di dunia ini, tapi mungkin juga dari jumlah yang sedikit itu ternyata Anda lah salah satunya.
Coca-Cola dan Pepsi adalah segelintir perusahaan asing yang produk minumannya familiar di kalangan masyarakat Indonesia. Saking hebatnya brand image yang dibangun sehingga seolah-olah produk mereka telah manjadi bagian dari hidup bangsa kita. Dengan leluasa mereka menjadikan indonesia dengan segala potensinya menjadi pasar empuk bagi produk yang dihasilkan. Tidak banyak produk indonesia yang begitu membanggakan dan mampu "menghajar" kekuatan kapitalis internasional itu. Salah satu produk membanggakan itu adalah Teh Botol Sosro.
Kesuksesesan sosro dalam merebut hati konsumen Indonesia sesungguhnya dilihat dari aspek pemasaran cukup unik. Sosro,dalam beberapa hal, telah mengabaikan hukum-hukum umum yang terdapat di ilmu pemasaran. Misalnya saja mengenai perlunya riset pasar sebelum meluncurkan produk. Konon kabarnya sebelum sosro hadir, ada sebuah perusahaan asing yang ingin mengeluarkan produk teh dalam botol sepert yang dilakukan sosro saat ini. Kala itu sang perusahaan menyewa jasa sebuah biro riset pemasaran untuk menguji kelayakan dan prospek produk tersebut di Indonesia.
Setelah meneliti dan mengamati kebiasaan minum teh di masyarakat sang biro pun menyimpulkan bahwa produk ini tidak memiliki prospek bagus untuk dipasarkan di Indonesia. Biro itu beralasan bahwa budaya minum teh pada bangsa Indonesia umumnya dilakukan pagi hari dalam cangkir dan disajikan hangat sehingga kehadiran teh dalam kemasan botol justru akan dianggap sebuah keanehan.
Sosrodjojo, pendiri perusahaan sosro, justru berpikir sebaliknya. Awalnya ide kemasan botol berasal dari pengalaman tes cicip (on place test) di pasar-pasar tradisional terhadap teh tubruk cap botol. Pada demonstrasi pertama teh langsung diseduh di tempat dan disajikan pada calon konsumen yang menyaksikan.
Namun cara tersebut memakan waktu lama sehingga calon konsumen cenderung meninggalkan tempat. Kemudian pada uji berikutnya teh telah diseduh dari pabrik dan kemudian dimasukkan ke dalam tong-tong dan dibawa dengan mobil. Akan tetapu cara ini ternyata membuat banyak teh tumpah selama perjalanan karena saat itu struktur jalan belum sebaik sekarang. Akhirnya sosro mencoba untuk memasukkannya pada kemasan-kemasan botol limun agar mudah dibawa. Beranglkat dari itu merekaberpikir bahwa penggunaan kemasan botol adalah alternatif yang paling praktis dalam menghadirkan kenikmatan teh lansung ke konsumen.
Dari awal produk ini ditargetkan untuk konsumen yang sering melakukan perjalanan seperti supir dan pejalan kaki sosro . Sosro menyadari bahwa segmen konsumen ini memiliki keinginan hadirnya minuman yang dapat menghilangkan dahaga di tengah kelelahan dan kondisi panas selama perjalanan. Atribut kepuasan ini dicoba untuk dipenuhi dengan menghadirkan minuman teh dalam kemasan botol yang praktis dan tersedia di kios-kios sepanjang jalan. Untuk menambah nilai kepuasan teh botol ini disajikan dingin dengan menyediakan boks-boks es pada titik-titik penjualannya (penggunaan kulkas pada saat itu belum lazim).
Tentu saja merubah kebiasaan tak semudah membalik telapak tangan . Pada masa-masa awal peluncurannya, teh botol sosro tidak banyak dilirik oleh konsumen. Mereka justru menganggap aneh produk ini karena kemasan botol dan penyajian dinginnya. Namun sosro tidak patah arang. Perusahaan ini terus mengedukasi pasarnya melalui iklan-iklan di berbagai media dan promosi-promosi on the spot. Perlahan tapi pasti produk teh botol sosro mulai mendapatkan tempat di hati konsumen Indonesia. Terlebih ketika slogan "Apapun makannya, minumnya teh botol sosro" di munculkan. Slogan ini tidak saja mengguncang sesama produk teh namun juga produk minuman secara keseluruhan.
Keunikan kedua dari metode pemasaran teh botol sosro adalah pada kekakuan dari produk itu sendiri. Sesuai teori pemasaran, konsumen secara alami mengalami perubahan atribut kepuasan seiring berjalannya waktu. Perubahan itu dapat disebabkan karena gaya hidup, kondisi ekonomi, atau kecerdasan yang maik meningkat. Seiring perubahan pasar itu harusnya produk yang dipasarkan harus menyesuaikan dan mengikuti tren yang ada. Namun yang terjadi pada produk teh inovatif ini justru kebalikan. Semenjak diluncurkan pada tahun 1970, produk teh botol sosro baik rasa, kemasan logo maupun penampilan tidak mengalami perubahan sama sekali. Bahkan ketika perusahaan multinational Pepsi dan Coca cola masuk melalui produk teh Tekita dan Frestea, Sosro tetap tak bergeming. Alih-alih merubah produknya, dengan cerdas sosro justru melakukan counter branding dengan mengeluarkan produk S-tee dengan volue yang lebih besar. Strategi ini ternyata lebih tepat, kedua perusahaan multinasional itu pun tak berhasil berbuat banyak untuk merebut hati konsumen Indonesia.
Sekelumit kisah sukses sosro itu memberi pelajaran pada kita betapa pemasaran tidak hanya sekedar ilmu yang eksak. Faktor knowledge terkadang hanya memberi kontribusi kecil pada kesuksesan produk kita ketika dipasarkan. Faktor sisanya adalah seni dan intuisi yang dapat memandu para pemasar mencapai hasil yang di luar dugaan. Gabungan antara ketiganya lah yang dapat menghasilkan seorang pemasar yang jenius dan berpikir di luar kebiasaan yang Anda. Mungkin tidak banyak orang seperti itu di dunia ini, tapi mungkin juga dari jumlah yang sedikit itu ternyata Anda lah salah satunya.
Break The Limit
Break The Limit ...
Norman Firman, MM., MBA., CBA
Science for Success Expert
Beberapa hari yang lalu saya berkesempatan memberikan training di Bandung. Karena acara dimulai jam 13.00 maka saya berangkat dari Jakarta pukul 9.30. Ketika mulai memasuki tol ke arah Sadang, di belakang saya ada sebuah mobil Lexus berwarna hitam yang melaju dengan kecepatan tinggi. Tetapi yang saya suka walaupun ia melaju dengan kecepatan tinggi, ia tidak memaksakan kehendak. Jika mobil di depannya tidak mau memberi jalan, maka ia yang mengalah dengan mengambil jalan ke kiri dahulu baru kemudian balik lagi ke jalur kanan.
Supaya tidak ngantuk karena saya menyetir sendirian dan tertarik dengan cara menyetir si mobil hitam ini, iseng-iseng saya membuntuti mobil tersebut dari belakang. Saya ikuti cara ia menyetir, termasuk kecepatannya. Ketika tidak ada mobil lain di tol, kecuali mobil tersebut dan mobil saya, mobil hitam tersebut menambah kecepatannya. Karena sedang membututi, tanpa sadar saya ikut menambah kecepatan mobil saya. Ketika saya melihat panel kecepatan, menunjukkan angka 160 km/jam. Padahal selama ini, kecepatan tercepat yang pernah saya tempuh adalah 140 km/jam, saya tidak berani melaju di atas itu. Tapi dengan adanya mobil yang saya ikuti, saya bisa tembus rekor kecepatan mobil saya. Sesuatu yang sulit saya lakukan jika tidak ada sparringnya.
Karena saya berhenti di suatu tempat, saya kehilangan mobil hitam tersebut. Ketika saya mulai memacu kendaraan lagi, saya coba untuk berlari 160 km/jam lagi. Saya berhasil mencapai kecepatan tersebut tetapi tidak berani terlalu lama karena belum terbiasa. Ketika kemudian ada mobil lain lagi yang melaju dengan kecepatan tinggi dan saya buntuti, saya bisa masuk lagi ke 160 km/jam dengan durasi yang cukup lama.
Sama seperti kehidupan ini, seringkali kita merasa sudah maksimal melakukan sesuatu. Kita merasa tidak mungkin lagi melakukan sesuatu yang lebih baik lagi. Namun kalau kita mempunyai sparring partner yang lebih hebat dari kita, entah itu seorang atasan, seorang coach, seorang mentor, role model atau apapun, maka kita bisa terpacu untuk mendapatkan hasil yang lebih baik lagi.
Jika kita belum matang belajar dari sparring partner kita dan mencoba untuk mandiri, mungkin agak sulit bagi kita untuk terus berada di kondisi sama seperti ketika ada sparring partner. Nantinya jika kita sudah mempunyai pola dan terbiasa, barulah kita mulai bisa mandiri.
Robert Kiyosaki mengatakan bahwa penghasilan seseorang ditentukan 5 orang terdekatnya. Ilustrasi saya mengenai kecepatan mobil bisa menjelaskan pernyataan dari Robert Kiyosaki tersebut.
Jika orang-orang di dekat kita hanya biasa-biasa saja, maka sulit bagi kita untuk melakukan sesuatu yang luar biasa.
Namun kalau kita biasa tetapi di sekelilingnya luar biasa, maka kita akan terpacu untuk juga menjadi luar biasa.
Apakah ada penjelasannya secara Science? Ternyata ada.
Di dalam otak manusia ada sekumpulan sel syaraf yang disebut Mirror Neuron, yang bertugas meniru apa yang dilakukan oleh orang lain.
Jika di sekelilingnya orang hebat atau luar biasa, maka Mirror Neuron kita akan meniru mereka sehingga menjadikan kita juga hebat dan luar biasa.
Kalau sebaliknya, maka Mirror Neuron-pun juga akan meniru yang sebaliknya.
- Siapa mobil hitam yang akan anda ikuti agar bisa menembus kecepatan anda selama ini?
- Siapa orang hebat dan luar biasa yang akan anda ikuti agar bisa menembus batas yang selama ini membatasi hidup anda?
Temukan orang tersebut!
ikuti dan pelajari bagaimana ia memandang dirinya, bagaimana keyakinan dan nilai-nilai kehidupan yang ia pegang, bagaimana ia membangun kapabilitasnya, bagaimana tingkah lakunya, maka anda akan mendobrak batas yang selama ini membatasi hidup anda.
Step Up, Live Life to the Max and Make Your Dreams Come True!
Norman Firman, MM., MBA., CBA
Science for Success Expert
Beberapa hari yang lalu saya berkesempatan memberikan training di Bandung. Karena acara dimulai jam 13.00 maka saya berangkat dari Jakarta pukul 9.30. Ketika mulai memasuki tol ke arah Sadang, di belakang saya ada sebuah mobil Lexus berwarna hitam yang melaju dengan kecepatan tinggi. Tetapi yang saya suka walaupun ia melaju dengan kecepatan tinggi, ia tidak memaksakan kehendak. Jika mobil di depannya tidak mau memberi jalan, maka ia yang mengalah dengan mengambil jalan ke kiri dahulu baru kemudian balik lagi ke jalur kanan.
Supaya tidak ngantuk karena saya menyetir sendirian dan tertarik dengan cara menyetir si mobil hitam ini, iseng-iseng saya membuntuti mobil tersebut dari belakang. Saya ikuti cara ia menyetir, termasuk kecepatannya. Ketika tidak ada mobil lain di tol, kecuali mobil tersebut dan mobil saya, mobil hitam tersebut menambah kecepatannya. Karena sedang membututi, tanpa sadar saya ikut menambah kecepatan mobil saya. Ketika saya melihat panel kecepatan, menunjukkan angka 160 km/jam. Padahal selama ini, kecepatan tercepat yang pernah saya tempuh adalah 140 km/jam, saya tidak berani melaju di atas itu. Tapi dengan adanya mobil yang saya ikuti, saya bisa tembus rekor kecepatan mobil saya. Sesuatu yang sulit saya lakukan jika tidak ada sparringnya.
Karena saya berhenti di suatu tempat, saya kehilangan mobil hitam tersebut. Ketika saya mulai memacu kendaraan lagi, saya coba untuk berlari 160 km/jam lagi. Saya berhasil mencapai kecepatan tersebut tetapi tidak berani terlalu lama karena belum terbiasa. Ketika kemudian ada mobil lain lagi yang melaju dengan kecepatan tinggi dan saya buntuti, saya bisa masuk lagi ke 160 km/jam dengan durasi yang cukup lama.
Sama seperti kehidupan ini, seringkali kita merasa sudah maksimal melakukan sesuatu. Kita merasa tidak mungkin lagi melakukan sesuatu yang lebih baik lagi. Namun kalau kita mempunyai sparring partner yang lebih hebat dari kita, entah itu seorang atasan, seorang coach, seorang mentor, role model atau apapun, maka kita bisa terpacu untuk mendapatkan hasil yang lebih baik lagi.
Jika kita belum matang belajar dari sparring partner kita dan mencoba untuk mandiri, mungkin agak sulit bagi kita untuk terus berada di kondisi sama seperti ketika ada sparring partner. Nantinya jika kita sudah mempunyai pola dan terbiasa, barulah kita mulai bisa mandiri.
Robert Kiyosaki mengatakan bahwa penghasilan seseorang ditentukan 5 orang terdekatnya. Ilustrasi saya mengenai kecepatan mobil bisa menjelaskan pernyataan dari Robert Kiyosaki tersebut.
Jika orang-orang di dekat kita hanya biasa-biasa saja, maka sulit bagi kita untuk melakukan sesuatu yang luar biasa.
Namun kalau kita biasa tetapi di sekelilingnya luar biasa, maka kita akan terpacu untuk juga menjadi luar biasa.
Apakah ada penjelasannya secara Science? Ternyata ada.
Di dalam otak manusia ada sekumpulan sel syaraf yang disebut Mirror Neuron, yang bertugas meniru apa yang dilakukan oleh orang lain.
Jika di sekelilingnya orang hebat atau luar biasa, maka Mirror Neuron kita akan meniru mereka sehingga menjadikan kita juga hebat dan luar biasa.
Kalau sebaliknya, maka Mirror Neuron-pun juga akan meniru yang sebaliknya.
- Siapa mobil hitam yang akan anda ikuti agar bisa menembus kecepatan anda selama ini?
- Siapa orang hebat dan luar biasa yang akan anda ikuti agar bisa menembus batas yang selama ini membatasi hidup anda?
Temukan orang tersebut!
ikuti dan pelajari bagaimana ia memandang dirinya, bagaimana keyakinan dan nilai-nilai kehidupan yang ia pegang, bagaimana ia membangun kapabilitasnya, bagaimana tingkah lakunya, maka anda akan mendobrak batas yang selama ini membatasi hidup anda.
Step Up, Live Life to the Max and Make Your Dreams Come True!
Anak Kerang
Pada suatu hari seekor anak kerang di dasar laut mengadu dan mengaduh pada ibunya sebab sebutir pasir tajam memasuki tubuhnya yang merah dan lembek. "Anakku," kata sang ibu sambil bercucuran air mata, "Tuhan tidak memberikan pada kita bangsa kerang sebuah tangan pun, sehingga Ibu tak bisa menolongmu. Sakit sekali, aku tahu anakku. Tetapi terimalah itu sebagai takdir alam." "Kuatkan hatimu. Jangan terlalu lincah lagi. Kerahkan semangatmu melawan rasa ngilu dan nyeri yang menggigit. Balutlah pasir itu dengan getah perutmu. Hanya itu yang bisa kau perbuat", kata ibunya dengan sendu dan lembut.
Anak kerang pun melakukan nasihat bundanya. Ada hasilnya, tetapi rasa sakit bukan alang kepalang. Kadang di tengah kesakitannya, ia meragukan nasihat ibunya. Dengan air mata ia bertahan, bertahun-tahun lamanya. Tetapi tanpa disadarinya sebutir mutiara mulai terbentuk dalam dagingnya. Makin lama makin halus. Rasa sakit pun makin berkurang. Dan semakin lama mutiaranya semakin besar. Rasa sakit menjadi terasa lebih wajar.
Akhirnya sesudah sekian tahun, sebutir mutiara besar, utuh mengkilap, dan berharga mahal pun terbentuk dengan sempurna. Penderitaannya berubah menjadi mutiara ; air matanya berubah menjadi sangat berharga. Dirinya kini, sebagai hasil derita bertahun-tahun, lebih berharga daripada sejuta kerang lain yang cuma disantap orang sebagai kerang rebus di pinggir jalan.
Cerita di atas adalah sebuah paradigma yg menjelaskan bahwa penderitaan adalah lorong transendental untuk menjadikan "kerang biasa" menjadi "kerang luar biasa". Karena itu dapat dipertegas bahwa kekecewaan dan penderitaan dapat mengubah "orang biasa" menjadi "orang luar biasa".
Banyak orang yang mundur saat berada di lorong transendental tersebut, karena mereka tidak tahan dengan cobaan yang mereka alami. Ada dua pilihan sebenarnya yang bisa mereka masuki : menjadi ‘kerang biasa’ yang disantap orang, atau menjadi ‘kerang yang menghasilkan mutiara’. Sayangnya, lebih banyak orang yang mengambil pilihan pertama, sehingga tidak mengherankan bila jumlah orang yang sukses lebih sedikit dari orang yang ‘biasa-biasa saja’.
So..sahabat mungkin saat ini kamu / kita sekarang sedang mengalami penolakan,penzoliman,kekecewaan, patah hati, atau terluka krn orang2 disekitar kita..cobalah untuk tetap tegar , tersenyum dan selalu berjalan di lorong tersebut, dan sambil katakan didalam hatimu.. "Airmataku diperhitungkan Tuhan..dan penderitaanku ini akan mengubah diriku menjadi mutiara2..."Semoga do'a kita semua dikabulkan allah amin...
Anak kerang pun melakukan nasihat bundanya. Ada hasilnya, tetapi rasa sakit bukan alang kepalang. Kadang di tengah kesakitannya, ia meragukan nasihat ibunya. Dengan air mata ia bertahan, bertahun-tahun lamanya. Tetapi tanpa disadarinya sebutir mutiara mulai terbentuk dalam dagingnya. Makin lama makin halus. Rasa sakit pun makin berkurang. Dan semakin lama mutiaranya semakin besar. Rasa sakit menjadi terasa lebih wajar.
Akhirnya sesudah sekian tahun, sebutir mutiara besar, utuh mengkilap, dan berharga mahal pun terbentuk dengan sempurna. Penderitaannya berubah menjadi mutiara ; air matanya berubah menjadi sangat berharga. Dirinya kini, sebagai hasil derita bertahun-tahun, lebih berharga daripada sejuta kerang lain yang cuma disantap orang sebagai kerang rebus di pinggir jalan.
Cerita di atas adalah sebuah paradigma yg menjelaskan bahwa penderitaan adalah lorong transendental untuk menjadikan "kerang biasa" menjadi "kerang luar biasa". Karena itu dapat dipertegas bahwa kekecewaan dan penderitaan dapat mengubah "orang biasa" menjadi "orang luar biasa".
Banyak orang yang mundur saat berada di lorong transendental tersebut, karena mereka tidak tahan dengan cobaan yang mereka alami. Ada dua pilihan sebenarnya yang bisa mereka masuki : menjadi ‘kerang biasa’ yang disantap orang, atau menjadi ‘kerang yang menghasilkan mutiara’. Sayangnya, lebih banyak orang yang mengambil pilihan pertama, sehingga tidak mengherankan bila jumlah orang yang sukses lebih sedikit dari orang yang ‘biasa-biasa saja’.
So..sahabat mungkin saat ini kamu / kita sekarang sedang mengalami penolakan,penzoliman,kekecewaan, patah hati, atau terluka krn orang2 disekitar kita..cobalah untuk tetap tegar , tersenyum dan selalu berjalan di lorong tersebut, dan sambil katakan didalam hatimu.. "Airmataku diperhitungkan Tuhan..dan penderitaanku ini akan mengubah diriku menjadi mutiara2..."Semoga do'a kita semua dikabulkan allah amin...
Baju Yang Menipu
Seorang wanita yang mengenakan gaun pudar menggandeng suaminya yang berpakaian sederhana dan usang, turun dari kereta api di Boston, dan berjalan dengan malu-malu menuju kantor Pimpinan Harvard University.
Mereka meminta janji. Sang sekretaris Universitas langsung mendapat kesan bahwa mereka adalah orang kampung udik, sehingga tidak mungkin ada urusan di Harvard dan bahkan mungkin tidak pantas berada di Cambridge.
"Kami ingin bertemu Pimpinan Harvard", kata sang pria lembut.
"Beliau hari ini sibuk," sahut sang Sekretaris cepat.
"Kami akan menunggu," jawab sang Wanita.
Selama 4 jam sekretaris itu mengabaikan mereka, dengan harapan bahwa pasangan tersebut akhirnya akan patah semangat dan pergi. Tetapi nyatanya tidak. Sang sekretaris mulai frustrasi, dan akhirnya memutuskan untuk melaporkan kepada sang pemimpinnya.
"Mungkin jika Anda menemui mereka selama beberapa menit, mereka akan pergi," katanya pada sang Pimpinan Harvard. Sang pimpinan menghela nafas dengan geram dan mengangguk. Orang sepenting dia pasti tidak punya waktu untuk mereka.
Dan ketika dia melihat dua orang yang mengenakan baju pudar dan pakaian usang diluar kantornya, rasa tidak senangnya sudah muncul. Sang Pemimpin Harvard, dengan wajah galak menuju pasangan tersebut.
Sang wanita berkata padanya, "Kami memiliki seorang putra yang kuliah tahun pertama di Harvard. Dia sangat menyukai Harvard dan bahagia di sini.
Tetapi setahun yang lalu, dia meninggal karena kecelakaan. Kami ingin mendirikan peringatan untuknya, di suatu tempat di kampus ini. bolehkan?" tanyanya, dengan mata yang menjeritkan harap.
Sang Pemimpin Harvard tidak tersentuh, wajahnya bahkan memerah. Dia tampak terkejut. "Nyonya," katanya dengan kasar, "Kita tidak bisa mendirikan tugu untuk setiap orang yang masuk Harvard dan meninggal. Kalau kita lakukan itu, tempat ini sudah kan seperti kuburan."
"Oh, bukan," Sang wanita menjelaskan dengan cepat, "Kami tidak ingin mendirikan tugu peringatan. Kami ingin memberikan sebuah gedung untuk Harvard."
Sang Pemimpin Harvard memutar matanya. Dia menatap sekilas pada baju pudar dan pakaian usang yang mereka kenakan dan berteriak, "Sebuah gedung! Apakah kalian tahu berapa harga sebuah gedung! Kami memiliki lebih dari 7,5 juta dolar hanya untuk bangunan fisik Harvard."
Untuk beberapa saat sang wanita terdiam. Sang Pemimpin Harvard senang. Mungkin dia bisa terbebas dari mereka sekarang.
Sang wanita menoleh pada suaminya dan berkata pelan, "Kalau hanya sebesar itu biaya untuk memulai sebuah universitas, mengapa tidak kita buat sendiri saja ?" Suaminya mengangguk. Wajah sang Pemimpin Harvard menampakkan kebingungan.
Mr. dan Mrs. Leland Stanford bangkit dan berjalan pergi, melakukan perjalanan ke Palo Alto, California, di sana mereka mendirikan sebuah Universitas yang menyandang nama mereka, sebuah peringatan untuk seorang anak yang tidak lagi diperdulikan oleh Harvard. Universitas tersebut adalah Stanford University, salah satu universitas favorit kelas atas di AS.
Kita, seperti pimpinan Hardvard itu, acap silau oleh baju, dan lalai. Padahal, baju hanya bungkus, apa yang disembunyikannya, kadang sangat tak ternilai. Jadi, janganlah kita selalu abai, karena baju-baju, acap menipu.
Mereka meminta janji. Sang sekretaris Universitas langsung mendapat kesan bahwa mereka adalah orang kampung udik, sehingga tidak mungkin ada urusan di Harvard dan bahkan mungkin tidak pantas berada di Cambridge.
"Kami ingin bertemu Pimpinan Harvard", kata sang pria lembut.
"Beliau hari ini sibuk," sahut sang Sekretaris cepat.
"Kami akan menunggu," jawab sang Wanita.
Selama 4 jam sekretaris itu mengabaikan mereka, dengan harapan bahwa pasangan tersebut akhirnya akan patah semangat dan pergi. Tetapi nyatanya tidak. Sang sekretaris mulai frustrasi, dan akhirnya memutuskan untuk melaporkan kepada sang pemimpinnya.
"Mungkin jika Anda menemui mereka selama beberapa menit, mereka akan pergi," katanya pada sang Pimpinan Harvard. Sang pimpinan menghela nafas dengan geram dan mengangguk. Orang sepenting dia pasti tidak punya waktu untuk mereka.
Dan ketika dia melihat dua orang yang mengenakan baju pudar dan pakaian usang diluar kantornya, rasa tidak senangnya sudah muncul. Sang Pemimpin Harvard, dengan wajah galak menuju pasangan tersebut.
Sang wanita berkata padanya, "Kami memiliki seorang putra yang kuliah tahun pertama di Harvard. Dia sangat menyukai Harvard dan bahagia di sini.
Tetapi setahun yang lalu, dia meninggal karena kecelakaan. Kami ingin mendirikan peringatan untuknya, di suatu tempat di kampus ini. bolehkan?" tanyanya, dengan mata yang menjeritkan harap.
Sang Pemimpin Harvard tidak tersentuh, wajahnya bahkan memerah. Dia tampak terkejut. "Nyonya," katanya dengan kasar, "Kita tidak bisa mendirikan tugu untuk setiap orang yang masuk Harvard dan meninggal. Kalau kita lakukan itu, tempat ini sudah kan seperti kuburan."
"Oh, bukan," Sang wanita menjelaskan dengan cepat, "Kami tidak ingin mendirikan tugu peringatan. Kami ingin memberikan sebuah gedung untuk Harvard."
Sang Pemimpin Harvard memutar matanya. Dia menatap sekilas pada baju pudar dan pakaian usang yang mereka kenakan dan berteriak, "Sebuah gedung! Apakah kalian tahu berapa harga sebuah gedung! Kami memiliki lebih dari 7,5 juta dolar hanya untuk bangunan fisik Harvard."
Untuk beberapa saat sang wanita terdiam. Sang Pemimpin Harvard senang. Mungkin dia bisa terbebas dari mereka sekarang.
Sang wanita menoleh pada suaminya dan berkata pelan, "Kalau hanya sebesar itu biaya untuk memulai sebuah universitas, mengapa tidak kita buat sendiri saja ?" Suaminya mengangguk. Wajah sang Pemimpin Harvard menampakkan kebingungan.
Mr. dan Mrs. Leland Stanford bangkit dan berjalan pergi, melakukan perjalanan ke Palo Alto, California, di sana mereka mendirikan sebuah Universitas yang menyandang nama mereka, sebuah peringatan untuk seorang anak yang tidak lagi diperdulikan oleh Harvard. Universitas tersebut adalah Stanford University, salah satu universitas favorit kelas atas di AS.
Kita, seperti pimpinan Hardvard itu, acap silau oleh baju, dan lalai. Padahal, baju hanya bungkus, apa yang disembunyikannya, kadang sangat tak ternilai. Jadi, janganlah kita selalu abai, karena baju-baju, acap menipu.
Mangkok Tanpa Alas
Disuatu pagi yang cerah , terlihat seorang raja bersama pengiringnya keluar dari istananya untuk menikmati udara pagi. Di keramaian, ia berpapasan dengan seorang pengemis.
Sang raja menyapa pengemis ini, "Apa yang engkau inginkan dariku?" Si pengemis itu tersenyum dan berkata, "Tuanku bertanya, seakan-akan tuanku dapat memenuhi permintaan hamba."
Sang raja terkejut, ia merasa tertantang, "Tentu saja aku dapat memenuhi permintaanmu. Apa yang engkau minta, katakanlah!"
Maka menjawablah sang pengemis,"Berpikirlah dua kali, wahai tuanku, sebelum tuanku menjanjikan apa-apa,,"
Rupanya sang pengemis bukanlah sembarang pengemis.
Namun raja tidak merasakan hal itu. Timbul rasa angkuh dan tak senang pada diri raja, karena mendapat nasihat dari seorang pengemis. "Sudah aku katakan, aku dapat memenuhi permintaanmu. Apapun juga! Aku adalah raja yang paling berkuasa dan aya-raya."
Dengan penuh kepolosan dan kesederhanaan si pengemis itu mengangsurkan mangkuk penadah sedekah,"Tuanku dapat mengisi penuh mangkuk ini dengan apa yang tuanku inginkan."
Bukan main! Raja menjadi geram mendengar 'tantangan' pengemis di hadapannya. Segera ia memerintahkan bendahara kerajaan yang ikut dengannya untuk mengisi penuh mangkuk pengemis kurang ajar ini dengan emas!
Kemudian bendahara menuangkan emas dari pundi-pundi besar yang di bawanya ke dalam mangkuk sedekah sang pengemis. Anehnya, emas dalam pundi-pundi besar itu tidak dapat mengisi penuh mangkuk sedekah.
Tak mau kehilangan muka di hadapan rakyatnya, sang raja terus memerintahkan bendahara mengisi mangkuk itu. Tetapi mangkuk itu tetap kosong. Bahkan seluruh perbendaharaan kerajaan: emas, intan berlian, ratna mutumanikam telah habis dilahap mangkuk sedekah itu. Mangkuk itu seolah tanpa dasar, berlubang.
Dengan perasaan tak menentu, sang raja jatuh bersimpuh di kaki si pengemis, ternyata dia bukan pengemis biasa, terbata-bata ia bertanya, "Sebelum berlalu dari tempat ini, dapatkah tuan menjelaskan terbuat dari apakah mangkuk sedekah ini?"
Pengemis itu menjawab sambil tersenyum, "Mangkuk itu terbuat dari keinginan manusia yang tanpa batas.
Itulah yang mendorong manusia senantiasa bergelut dalam hidupnya". Ada kegembiraan, gairah memuncak di hati, pengalaman yang mengasyikkan kala engkau menginginkan sesuatu. Ketika akhirnya engkau telah mendapatkan keinginan itu, semua yang telah kau dapatkan itu, seolah tidak ada lagi artinya bagimu.
Semuanya hilang ibarat emas intan berlian yang masuk dalam mangkuk yang tak beralas itu.
Kegembiraan, gairah, dan pengalaman yang mengasyikkan itu hanya tatkala dalam proses untuk mendapatkan keinginan.
Raja itu bertanya lagi, "Adakah cara untuk dapat menutup alas mangkuk itu?"
"Tentu ada, yaitu rasa syukur kepada Tuhan,, Jika engkau pandai bersyukur, Tuhan akan menambah nikmat padamu," Ucap sang pengemis itu, sambil ia berjalan kemudian menghilang.
Untuk itu ingin saya petikkan sebuah Firman suci_Nya dalam Al_Qur'an
Dan sesungguhnya telah Kami berikan hikmat kepada Luqman, yaitu: "Bersyukurlah kepada Allah.Dan barangsiapa yang bersyukur (kepada Allah), maka sesungguhnya ia bersyukur untuk dirinya sendiri; dan barangsiapa yang tidak bersyukur, maka sesungguhnya Allah Maha Kaya lagi Maha Terpuji". (QS. 31:12)
Sang raja menyapa pengemis ini, "Apa yang engkau inginkan dariku?" Si pengemis itu tersenyum dan berkata, "Tuanku bertanya, seakan-akan tuanku dapat memenuhi permintaan hamba."
Sang raja terkejut, ia merasa tertantang, "Tentu saja aku dapat memenuhi permintaanmu. Apa yang engkau minta, katakanlah!"
Maka menjawablah sang pengemis,"Berpikirlah dua kali, wahai tuanku, sebelum tuanku menjanjikan apa-apa,,"
Rupanya sang pengemis bukanlah sembarang pengemis.
Namun raja tidak merasakan hal itu. Timbul rasa angkuh dan tak senang pada diri raja, karena mendapat nasihat dari seorang pengemis. "Sudah aku katakan, aku dapat memenuhi permintaanmu. Apapun juga! Aku adalah raja yang paling berkuasa dan aya-raya."
Dengan penuh kepolosan dan kesederhanaan si pengemis itu mengangsurkan mangkuk penadah sedekah,"Tuanku dapat mengisi penuh mangkuk ini dengan apa yang tuanku inginkan."
Bukan main! Raja menjadi geram mendengar 'tantangan' pengemis di hadapannya. Segera ia memerintahkan bendahara kerajaan yang ikut dengannya untuk mengisi penuh mangkuk pengemis kurang ajar ini dengan emas!
Kemudian bendahara menuangkan emas dari pundi-pundi besar yang di bawanya ke dalam mangkuk sedekah sang pengemis. Anehnya, emas dalam pundi-pundi besar itu tidak dapat mengisi penuh mangkuk sedekah.
Tak mau kehilangan muka di hadapan rakyatnya, sang raja terus memerintahkan bendahara mengisi mangkuk itu. Tetapi mangkuk itu tetap kosong. Bahkan seluruh perbendaharaan kerajaan: emas, intan berlian, ratna mutumanikam telah habis dilahap mangkuk sedekah itu. Mangkuk itu seolah tanpa dasar, berlubang.
Dengan perasaan tak menentu, sang raja jatuh bersimpuh di kaki si pengemis, ternyata dia bukan pengemis biasa, terbata-bata ia bertanya, "Sebelum berlalu dari tempat ini, dapatkah tuan menjelaskan terbuat dari apakah mangkuk sedekah ini?"
Pengemis itu menjawab sambil tersenyum, "Mangkuk itu terbuat dari keinginan manusia yang tanpa batas.
Itulah yang mendorong manusia senantiasa bergelut dalam hidupnya". Ada kegembiraan, gairah memuncak di hati, pengalaman yang mengasyikkan kala engkau menginginkan sesuatu. Ketika akhirnya engkau telah mendapatkan keinginan itu, semua yang telah kau dapatkan itu, seolah tidak ada lagi artinya bagimu.
Semuanya hilang ibarat emas intan berlian yang masuk dalam mangkuk yang tak beralas itu.
Kegembiraan, gairah, dan pengalaman yang mengasyikkan itu hanya tatkala dalam proses untuk mendapatkan keinginan.
Raja itu bertanya lagi, "Adakah cara untuk dapat menutup alas mangkuk itu?"
"Tentu ada, yaitu rasa syukur kepada Tuhan,, Jika engkau pandai bersyukur, Tuhan akan menambah nikmat padamu," Ucap sang pengemis itu, sambil ia berjalan kemudian menghilang.
Untuk itu ingin saya petikkan sebuah Firman suci_Nya dalam Al_Qur'an
Dan sesungguhnya telah Kami berikan hikmat kepada Luqman, yaitu: "Bersyukurlah kepada Allah.Dan barangsiapa yang bersyukur (kepada Allah), maka sesungguhnya ia bersyukur untuk dirinya sendiri; dan barangsiapa yang tidak bersyukur, maka sesungguhnya Allah Maha Kaya lagi Maha Terpuji". (QS. 31:12)
Fokus Pada Masalah atah Solusi ?
Efisiensi adalah suatu hal yang penting di dalam dunia manajemen.
Sebagai seorang anggota tim yang baik, kita memiliki tanggung jawab bukan hanya dalam membawa tim kita mencapai tujuan bersama, tetapi juga tanggung jawab dalam mencari cara terbaik untuk memecahkan setiap masalah yang terjadi.
Tetapi seringkali kita terkecoh saat menghadapi suatu masalah, dan
walaupun masalah tersebut terpecahkan, tetapi pemecahan yang ada
bukanlah suatu pemecahan yang efisien dan justru malah terlalu rumit.
Mari kita coba lihat dalam dua kasus di bawah ini:
1. Salah satu dari kasus yang ada adalah kasus kotak sabun yang kosong, yang terjadi di salah satu perusahaan kosmetik yang terbesar di Jepang. Perusahaan tersebut menerima keluhan dari pelanggan yang mengatakan bahwa ia telah membeli kotak sabun yang kosong.
Dengan segera para pimpinan perusahaan menceritakan masalah tersebut ke bagian pengepakan yang bertugas untuk memindahkan semua kotak sabun yang telah dipak ke departemen pengiriman. Karena suatu alasan, ada satu kotak sabun yang terluput dan mencapai bagian pengepakan dalam keadaan kosong.
Tim manajemen meminta para teknisi untuk memecahkan masalah tersebut.
Dengan segera, para teknisi bekerja keras untuk membuat sebuah mesin
sinar X denganmonitor resolusi tinggi yang dioperasikan oleh dua orang untuk melihat semua kotak sabun yang melewati sinar tersebut dan memastikan bahwa kotak tersebut tidak kosong. Tak diragukan lagi, mereka bekerja keras dan cepat tetapi biaya yang dikeluarkan pun tidak sedikit.
Tetapi saat ada seorang karyawan di sebuah perusahaan kecil dihadapkan pada permasalahan yang sama, ia tidak berpikir tentang hal-hal yang rumit, tetapi ia muncul dengan solusi yang berbeda. Ia membeli sebuah kipas angin listrik untuk industri yang memiliki tenaga cukup besar dan mengarahkannya ke garis pengepakan. Ia menyalakan kipas angin tersebut, dan setiap ada kotak sabun yang melewati kipas angin tersebut, kipas tersebut meniup kotak sabun yang kosong keluar dari jalur pengepakan.
2. Pada saat NASA mulai mengirimkan astronot ke luar angkasa, mereka
menemukan bahwa pulpen mereka tidak bisa berfungsi di gravitasi nol,
karena tinta pulpen tersebut tidak dapat mengalir ke mata pena. Untuk
memecahkan masalah tersebut, mereka menghabiskan waktu satu decade dan 12 juta dolar. Mereka mengembangkan sebuah pulpen yang dapat berfungsi pada keadaan-keadaan seperti gravitasi nol, terbalik, dalam air, dalam berbagaipermukaan termasuk kristal dan dalam derajat temperatur mulai dari di bawah titik beku sampai lebih dari 300 derajat Celcius. Dan apakah yang dilakukan para orang Rusia? Mereka menggunakan pensil!
Moral cerita ini adalah yaitu selalu mencari solusi yang sederhana,
sehingga bahkan orang bodoh sekalipun dapat melakukannya. Cobalah menyusun solusi yang paling sederhana dan memungkinkan untuk memecahkan masalah yang ada.
Maka dari itu, kita harus belajar untuk fokus pada solusi daripada pada berfokus pada masalah. "Bila kita melihat pada apa yang tidak kita punya di dalam hidup kita, kita tidak akan memiliki apa-apa. Tetapi bila kita melihat pada apa yang ada di tangan kita, kita memiliki segalanya."
Sumber: Fokus Pada Masalah atau Pada Solusi? - JRP Indonesia
Sebagai seorang anggota tim yang baik, kita memiliki tanggung jawab bukan hanya dalam membawa tim kita mencapai tujuan bersama, tetapi juga tanggung jawab dalam mencari cara terbaik untuk memecahkan setiap masalah yang terjadi.
Tetapi seringkali kita terkecoh saat menghadapi suatu masalah, dan
walaupun masalah tersebut terpecahkan, tetapi pemecahan yang ada
bukanlah suatu pemecahan yang efisien dan justru malah terlalu rumit.
Mari kita coba lihat dalam dua kasus di bawah ini:
1. Salah satu dari kasus yang ada adalah kasus kotak sabun yang kosong, yang terjadi di salah satu perusahaan kosmetik yang terbesar di Jepang. Perusahaan tersebut menerima keluhan dari pelanggan yang mengatakan bahwa ia telah membeli kotak sabun yang kosong.
Dengan segera para pimpinan perusahaan menceritakan masalah tersebut ke bagian pengepakan yang bertugas untuk memindahkan semua kotak sabun yang telah dipak ke departemen pengiriman. Karena suatu alasan, ada satu kotak sabun yang terluput dan mencapai bagian pengepakan dalam keadaan kosong.
Tim manajemen meminta para teknisi untuk memecahkan masalah tersebut.
Dengan segera, para teknisi bekerja keras untuk membuat sebuah mesin
sinar X denganmonitor resolusi tinggi yang dioperasikan oleh dua orang untuk melihat semua kotak sabun yang melewati sinar tersebut dan memastikan bahwa kotak tersebut tidak kosong. Tak diragukan lagi, mereka bekerja keras dan cepat tetapi biaya yang dikeluarkan pun tidak sedikit.
Tetapi saat ada seorang karyawan di sebuah perusahaan kecil dihadapkan pada permasalahan yang sama, ia tidak berpikir tentang hal-hal yang rumit, tetapi ia muncul dengan solusi yang berbeda. Ia membeli sebuah kipas angin listrik untuk industri yang memiliki tenaga cukup besar dan mengarahkannya ke garis pengepakan. Ia menyalakan kipas angin tersebut, dan setiap ada kotak sabun yang melewati kipas angin tersebut, kipas tersebut meniup kotak sabun yang kosong keluar dari jalur pengepakan.
2. Pada saat NASA mulai mengirimkan astronot ke luar angkasa, mereka
menemukan bahwa pulpen mereka tidak bisa berfungsi di gravitasi nol,
karena tinta pulpen tersebut tidak dapat mengalir ke mata pena. Untuk
memecahkan masalah tersebut, mereka menghabiskan waktu satu decade dan 12 juta dolar. Mereka mengembangkan sebuah pulpen yang dapat berfungsi pada keadaan-keadaan seperti gravitasi nol, terbalik, dalam air, dalam berbagaipermukaan termasuk kristal dan dalam derajat temperatur mulai dari di bawah titik beku sampai lebih dari 300 derajat Celcius. Dan apakah yang dilakukan para orang Rusia? Mereka menggunakan pensil!
Moral cerita ini adalah yaitu selalu mencari solusi yang sederhana,
sehingga bahkan orang bodoh sekalipun dapat melakukannya. Cobalah menyusun solusi yang paling sederhana dan memungkinkan untuk memecahkan masalah yang ada.
Maka dari itu, kita harus belajar untuk fokus pada solusi daripada pada berfokus pada masalah. "Bila kita melihat pada apa yang tidak kita punya di dalam hidup kita, kita tidak akan memiliki apa-apa. Tetapi bila kita melihat pada apa yang ada di tangan kita, kita memiliki segalanya."
Sumber: Fokus Pada Masalah atau Pada Solusi? - JRP Indonesia
Fokus Pada Masalah atau Solusi?
Efisiensi adalah suatu hal yang penting di dalam dunia manajemen. Sebagai seorang anggota tim yang baik, kita memiliki tanggung jawab bukan hanya dalam membawa tim kita mencapai tujuan bersama, tetapi juga tanggung jawab dalam mencari cara terbaik untuk memecahkan setiap masalah yang terjadi.
Tetapi seringkali kita terkecoh saat menghadapi suatu masalah, dan walaupun masalah tersebut terpecahkan, tetapi pemecahan yang ada bukanlah suatu pemecahan yang efisien dan justru malah terlalu rumit.
Mari kita coba lihat dalam dua kasus di bawah ini:
1. Salah satu dari kasus yang ada adalah kasus kotak sabun yang kosong, yang terjadi di salah satu perusahaan kosmetik yang terbesa di Jepang. Perusahaan tersebut menerima keluhan dari pelanggan yang mengatakan bahwa ia telah membeli kotak sabun yang kosong.
Dengan segera para pimpinan perusahaan menceritakan masalah tersebu ke bagian pengepakan yang bertugas untuk memindahkan semua kotak sabun yang telah dipak ke departemen pengiriman. Karena suatu alasan, ada satu kotak sabun yang terluput dan mencapai bagian pengepakan dalam keadaan kosong.
Tim manajemen meminta para teknisi untuk memecahkan masalah tersebut. Dengan segera, para teknisi bekerja keras untuk membuat sebuah mesin sinar X denganmonitor resolusi tinggi yang dioperasika oleh dua orang untuk melihat semua kotak sabun yang melewati sinar tersebut dan memastikan bahwa kotak tersebut tidak kosong. Tak diragukan lagi, mereka bekerja keras dan cepat tetapi biaya yang dikeluarkan pun tidak sedikit.
Tetapi saat ada seorang karyawan di sebuah perusahaan kecil dihadapkan pada permasalahan yang sama, ia tidak berpikir tentang hal-hal yang rumit, tetapi ia muncul dengan solusi yang berbeda. Ia membeli sebuah kipas angin listrik untuk industri yang memiliki tenaga cukup besar dan mengarahkannya ke garis pengepakan. Ia menyalakan kipas angin tersebut, dan setiap ada kotak sabun yang melewati kipas angin tersebut, kipas tersebut meniup kotak sabun yang kosong keluar dari jalur pengepakan.
2. Pada saat NASA mulai mengirimkan astronot ke luar angkasa, mereka menemukan bahwa pulpen mereka tidak bisa berfungsi di gravitasi nol, karena tinta pulpen tersebut tidak dapat mengalir ke mata pena. Untuk memecahkan masalah tersebut, mereka menghabiskan waktu satu decade dan 12 juta dolar. Mereka mengembangkan sebuah pulpen yang dapat berfungsi pada keadaan-keadaan seperti gravitasi nol, terbalik, dalam air, dalam berbagaipermukaan termasuk kristal dan dalam derajat temperatur mulai dari di bawah titik beku sampai lebih dari 300 derajat Celcius. Dan apakah yang dilakukan para orang Rusia? Mereka menggunakan pensil!
Moral cerita ini adalah yaitu selalu mencari solusi yang sederhana, sehingga bahkan orang bodoh sekalipun dapat melakukannya. Cobalah menyusun solusi yang paling sederhana dan memungkinkan untuk memecahkan masalah yang ada.
Maka dari itu, kita harus belajar untuk fokus pada solusi daripada pada berfokus pada masalah. "Bila kita melihat pada apa yang tidak kita punya di dalam hidup kita, kita tidak akan memiliki apa-apa. Tetapi bila kita melihat pada apa yang ada di tangan kita, kita memiliki segalanya."
Sumber: Fokus Pada Masalah atau Pada Solusi? - JRP Indonesia
Tetapi seringkali kita terkecoh saat menghadapi suatu masalah, dan walaupun masalah tersebut terpecahkan, tetapi pemecahan yang ada bukanlah suatu pemecahan yang efisien dan justru malah terlalu rumit.
Mari kita coba lihat dalam dua kasus di bawah ini:
1. Salah satu dari kasus yang ada adalah kasus kotak sabun yang kosong, yang terjadi di salah satu perusahaan kosmetik yang terbesa di Jepang. Perusahaan tersebut menerima keluhan dari pelanggan yang mengatakan bahwa ia telah membeli kotak sabun yang kosong.
Dengan segera para pimpinan perusahaan menceritakan masalah tersebu ke bagian pengepakan yang bertugas untuk memindahkan semua kotak sabun yang telah dipak ke departemen pengiriman. Karena suatu alasan, ada satu kotak sabun yang terluput dan mencapai bagian pengepakan dalam keadaan kosong.
Tim manajemen meminta para teknisi untuk memecahkan masalah tersebut. Dengan segera, para teknisi bekerja keras untuk membuat sebuah mesin sinar X denganmonitor resolusi tinggi yang dioperasika oleh dua orang untuk melihat semua kotak sabun yang melewati sinar tersebut dan memastikan bahwa kotak tersebut tidak kosong. Tak diragukan lagi, mereka bekerja keras dan cepat tetapi biaya yang dikeluarkan pun tidak sedikit.
Tetapi saat ada seorang karyawan di sebuah perusahaan kecil dihadapkan pada permasalahan yang sama, ia tidak berpikir tentang hal-hal yang rumit, tetapi ia muncul dengan solusi yang berbeda. Ia membeli sebuah kipas angin listrik untuk industri yang memiliki tenaga cukup besar dan mengarahkannya ke garis pengepakan. Ia menyalakan kipas angin tersebut, dan setiap ada kotak sabun yang melewati kipas angin tersebut, kipas tersebut meniup kotak sabun yang kosong keluar dari jalur pengepakan.
2. Pada saat NASA mulai mengirimkan astronot ke luar angkasa, mereka menemukan bahwa pulpen mereka tidak bisa berfungsi di gravitasi nol, karena tinta pulpen tersebut tidak dapat mengalir ke mata pena. Untuk memecahkan masalah tersebut, mereka menghabiskan waktu satu decade dan 12 juta dolar. Mereka mengembangkan sebuah pulpen yang dapat berfungsi pada keadaan-keadaan seperti gravitasi nol, terbalik, dalam air, dalam berbagaipermukaan termasuk kristal dan dalam derajat temperatur mulai dari di bawah titik beku sampai lebih dari 300 derajat Celcius. Dan apakah yang dilakukan para orang Rusia? Mereka menggunakan pensil!
Moral cerita ini adalah yaitu selalu mencari solusi yang sederhana, sehingga bahkan orang bodoh sekalipun dapat melakukannya. Cobalah menyusun solusi yang paling sederhana dan memungkinkan untuk memecahkan masalah yang ada.
Maka dari itu, kita harus belajar untuk fokus pada solusi daripada pada berfokus pada masalah. "Bila kita melihat pada apa yang tidak kita punya di dalam hidup kita, kita tidak akan memiliki apa-apa. Tetapi bila kita melihat pada apa yang ada di tangan kita, kita memiliki segalanya."
Sumber: Fokus Pada Masalah atau Pada Solusi? - JRP Indonesia
Kualitas Diri Pribadi
Hidup memang akan kehilangan maknanya jika kita hanya sekedar hidup begitu saja. Sebenarnya kualitas pribadi seperti apa yang ingin kita cari dalam hidup ini? Mungkin kita bisa mencoba merenungkan pertanyaan itu untuk lebih menyelami keberadaan kita di dunia selama ini.
Rendah hati
Kerendahan hati sebenarnya mengungkapkan kekuatan kita. Umumnya hanya mereka yang kuat jiwanya yang mampu bersikap rendah hati. Orang yang rendah hati mungkin bisa digambarkan seperti padi, yang semakin berisi semakin menunduk, yaitu bisa mengakui dan menghargai keunggulan orang lain.
Bersikap positif
Orang yang bersikap positif selalu berusaha melihat segala sesuatu dari sisi yang positif, bahkan dalam situasi terburuk sekalipun. Mereka lebih suka membicarakan kebaikan daripada keburukan orang lain, lebih suka berbicara tentang harapan daripada penyesalan, lebih suka mencari solusi daripada frustasi, lebih suka memuji daripada iri hati, dan lain sebagainya.
Selalu ceria
Memang tidak semua orang dikaruniai temperamen yang ceria. Keceriaan juga tidak harus dilihat dari ekspresi wajah dan tubuh, namun dari sikap hatinya. Orang yang ceria adalah orang yang bisa menikmati hidup, tidak suka mengeluh, dan selalu berusaha meraih kegembiraan. Mereka juga mempunyai potensi untuk menghibur atau memberi semangat pada orang lain.
Bertanggung jawab
Orang yang bertanggung jawab akan melaksanakan kewajibannya dengan sungguh-sungguh. Kalau melakukan kesalahan, mereka berani mengakuinya. Ketika mengalami kegagalan, mereka juga tidak mencari kambing hitam untuk disalahkan. Bahkan kalau merasa kecewa dan sakit hati, mereka cenderung tidak menyalahkan siapapun. Mereka menyadari bahwa mereka sendirilah yang bertanggung jawab atas apapun yang dialami atau dirasakannya.
Percaya diri
Rasa percaya diri memungkinkan seseorang dapat menerima dan menghargai dirinya sendiri serta menghargai orang lain. Orang yang percaya diri mudah menyesuaikan diri dengan lingkungan dan situasi yang baru. Mereka tahu apa yang harus dilakukannya dan akan melakukannya dengan baik.
Easy going
Orang yang "easy going" cenderung menganggap hidup ini ringan dan indah. Mereka tidak suka membesar-besarkan masalah yang kecil, bahkan berusaha mengecilkan masalah-masalah yang besar. Mereka tidak suka mengungkit masa lalu, tidak khawatir dengan masa depan, dan tidak stres dengan masalah-masalah yang berada diluar kontrolnya.
Empati
Empati adalah sifat yang sangat mengagumkan. Orang yang berempati bukan saja menjadi pendengar yang baik, namun juga bisa menempatkan diri pada posisi orang lain. Mereka selalu mencari jalan keluar terbaik ketika terjadi konflik serta tidak suka memaksakan pendapat atau kehendaknya sendiri. Mereka selalu berusaha untuk memahami dan mengerti orang lain.
Rendah hati
Kerendahan hati sebenarnya mengungkapkan kekuatan kita. Umumnya hanya mereka yang kuat jiwanya yang mampu bersikap rendah hati. Orang yang rendah hati mungkin bisa digambarkan seperti padi, yang semakin berisi semakin menunduk, yaitu bisa mengakui dan menghargai keunggulan orang lain.
Bersikap positif
Orang yang bersikap positif selalu berusaha melihat segala sesuatu dari sisi yang positif, bahkan dalam situasi terburuk sekalipun. Mereka lebih suka membicarakan kebaikan daripada keburukan orang lain, lebih suka berbicara tentang harapan daripada penyesalan, lebih suka mencari solusi daripada frustasi, lebih suka memuji daripada iri hati, dan lain sebagainya.
Selalu ceria
Memang tidak semua orang dikaruniai temperamen yang ceria. Keceriaan juga tidak harus dilihat dari ekspresi wajah dan tubuh, namun dari sikap hatinya. Orang yang ceria adalah orang yang bisa menikmati hidup, tidak suka mengeluh, dan selalu berusaha meraih kegembiraan. Mereka juga mempunyai potensi untuk menghibur atau memberi semangat pada orang lain.
Bertanggung jawab
Orang yang bertanggung jawab akan melaksanakan kewajibannya dengan sungguh-sungguh. Kalau melakukan kesalahan, mereka berani mengakuinya. Ketika mengalami kegagalan, mereka juga tidak mencari kambing hitam untuk disalahkan. Bahkan kalau merasa kecewa dan sakit hati, mereka cenderung tidak menyalahkan siapapun. Mereka menyadari bahwa mereka sendirilah yang bertanggung jawab atas apapun yang dialami atau dirasakannya.
Percaya diri
Rasa percaya diri memungkinkan seseorang dapat menerima dan menghargai dirinya sendiri serta menghargai orang lain. Orang yang percaya diri mudah menyesuaikan diri dengan lingkungan dan situasi yang baru. Mereka tahu apa yang harus dilakukannya dan akan melakukannya dengan baik.
Easy going
Orang yang "easy going" cenderung menganggap hidup ini ringan dan indah. Mereka tidak suka membesar-besarkan masalah yang kecil, bahkan berusaha mengecilkan masalah-masalah yang besar. Mereka tidak suka mengungkit masa lalu, tidak khawatir dengan masa depan, dan tidak stres dengan masalah-masalah yang berada diluar kontrolnya.
Empati
Empati adalah sifat yang sangat mengagumkan. Orang yang berempati bukan saja menjadi pendengar yang baik, namun juga bisa menempatkan diri pada posisi orang lain. Mereka selalu mencari jalan keluar terbaik ketika terjadi konflik serta tidak suka memaksakan pendapat atau kehendaknya sendiri. Mereka selalu berusaha untuk memahami dan mengerti orang lain.
Subscribe to:
Posts (Atom)
